Kamis, 17 April 2014

KLASIK (fan fiction)



Cantik, kaya, dan populer bagi sebagian orang terutama cewek mungkin itu adalah impian.  Walaupun pada kenyataannya itu semua belum tentu memberikan kebahagiaan. Seperti apa yang dialami oleh Jessica. Cewek tercantik dan paling populer diuniversitas bergengsi ini tidak bisa merasakan kebahagiaan atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Padahal dia adalah putri tunggal dari sebuah keluarga pengusaha kaya. Perfect, mungkin itu yang ada dibayangan orang jika melihat sosok Jessica. Namun bagi dirinya sendiri justru ia merasa sebaliknya.
         Sica memang cantik, populer, dan kaya. Namun ternyata semua itu tidak bisa memberikan kebahagiaan. Apa yang diperoleh dari kelebihan-kelebihannya itu malah membuat pedih dirinya. Kecantikannya ternyata hanya dapat menarik mata para kaum adam yang melihat perempuan dari fisik belaka. Popularitasnya dan juga kekayaannya dimanfaatkan hanya oleh orang disekitarnya yang tidak bertanggung jawab. Intinya, tidak ada yang tulus berteman atau mendekati dia selama ini. Semua didasarkan karena kecantikan, popularitas, dan kekayaannya saja. Itulah alasan mengapa Jessica tidak pernah merasakan kebahagiaan selama ini.
            Salah satu hal menyakitkan yang dialami Jessica adalah berkaitan dengan kehidupan cintanya. Dimana mantan kekasihnya dulu mendekati dirinya hanya karena ingin memperoleh warisan dari ayahnya saja. Sica percaya pada cowok itu karena dia memang teman satu kampusnya dan sangat dekat dengannya. Tapi ternyata segala perhatian dan kebaikannya memiliki tujuan lain yang tidak ada hubungannya dengan kata cinta yang sering kali diucapkannya.
            Kini Jessica tidak kuliah ditempat yang sama lagi. Ia sengaja ingin mencari lingkungan dan suasana baru. Ia benci teman-teman lamanya yang hanya memanfaatkannya. Ia juga benci mantannya yang tidak tulus cinta padanya. Ia benci semua itu dan ingin memulai hal baru. Dan....satu kejadian mengawali semuanya itu.
            Saat itu, Jessica sedang berjalan menuju tempat parkiran mobilnya dikampus barunya. Namun diperjalanan tiba-tiba seorang cowok menabraknya. Semua buku yang kebetulan Jessica bawa jatuh berantakan. Si cowok itu pun tentu membantu memungut dan merapihkannya. Namun belum sempat si cowok membantu, Jessica langsung mengatakan kata-kata sinis padanya.
“ Aku udah bosan dengan semua ini!. Kamu sengajakan nabrak aku?!”. Bentak Jessica.
                Mendengar tuduhan cewek yang ditabraknya si cowok tidak berkomentar. Ia hanya membalas tatapan Jessica dengan senyum yang tidak kalah sinis. Diam beberapa saat, lalu langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
                Jessica berkata sinis pada cowok itu karena ia merasa apa yang dilakukan cowok itu adalah acting. Cuma pura-pura menabraknya yang pada akhirnya meminta kenalan. Gaya pendekatan klasik yang baginya sungguh memuakan. Kebanyakan mantan-mantannya adalah cowok yang menggunakan cara pendekatan yang norak seperti itu. Ia tidak mau menjadi korbannya lagi.
              Selang beberapa hari kemudian Jessica secara tidak sengaja ketemu lagi dengan cowok yang menabraknya waktu itu. Namun kali ini cowok itu datang sebagai penolong untuk Jessica. Kebetulan saat itu ban mobil BMW 320i milik Jessica bocor.
“ Bisa aku bantu?”. Ucap si cowok menawarkan diri.
“ Gak usah. Aku bisa pulang naik taksi dan mobil ini biar supirku yang mengurus. Aku gak butuh bantuan kamu. Lagipula aku bisa main ketempat tanteku dulu. Rumahnya deket kok dari sini”. Menyadari cowok itu yang dulu menabraknya, Jessica lagi-lagi langsung berkata sinis.
“ Oh, oke kalau gitu. Akukan hanya menawarkan bantuan. Jika kamu gak bersedia ya gak apa-apa”.
“ Kenapa sih harus kamu? Atau jangan-jangan kamu memang buntutin aku dari tadi, iya?”. Bukannya berterima kasih sudah ditawari bantuan, Jessica malah justru menuduh si cowok.
“ Buntutin kamu? Yang benar saja. Kamu make mobil dan aku jalan kaki, ya gak mungkinlah”. Jawab si cowok santai dan memang benar si cowok hanya berjalan kaki. Sekilas Sica merasa bersalah. Namun ia tetap berusaha menjaga gengsinya.
“ Ya bisa saja. Kalau enggak, terus kenapa kamu tiba-tiba ada disini?”.
“ Apa perlu aku jelaskan alasan kenapa aku ada disini?”. Si cowok yang merasa dituduh mulai merasa kesal.
“ Iya!!, kamu harus jelasin. Kamu gak bisakan?!”.
“ Hm, sepertinya hanya buang-buang waktu bicara dengan cewek seperti kamu. Permisi”. Ucap cowok itu sebelum kemudian berlalu pergi. Si cowok memang benar-benar jalan kaki, karena tidak berapa lama kemudian ia terlihat naik kesebuah bis yang kebetulan melewatinya.
            Sesaat Jessica sempat berfikir kalau cowok tadi mungkin saja benar. Karena jika dipikirkan, kecil kemungkinan kalau semua kejadian tadi adalah kesengajaan. Namun Jessica tetap menyangkal pikiran sekilasnya itu. Ia tetap menyangka kalau itu semua adalah trik si cowok untuk mencoba mendekatinya.
***
             Jessica memang trauma dengan pengalaman dengan mantan-mantannya dulu. Dimana hampir dari semua cowok itu mendekatinya dengan cara klasik. Namun entah kenapa, tragedi tabrakan dan ban bocor itu justru malah menjadi bahan pikirannya sekarang ini. Bayangan cowok yang sama sekali tidak ia kenal itu terus saja muncul dikepalanya.
“ Sica, kenapa sih dari tadi bengong terus?”. Tanya Ocha, sahabat baru Jessica.
“ Eh, gak apa-apa kok. Sorry ya Cha”. Jessica baru sadar kalau sedari tadi makanan yang dipesannya dikantin itu belum disentuh sedikitpun.
“ Mikirin cowok ya?”. Tebak Ocha kemudian.
“ Enggak kok, ngapain mikirin cowok. Gak penting”.
“ Ngomong-ngomong soal cowok...mau enggak aku kenalin dengan seseorang?”.
“ Siapa?, jangan bilang kamu mau jodohin aku”.
“ Memangnya kenapa kalau aku jodohin?. Cowok dikampus ini gak seperti dikampus kamu dulu”.
“ Tetep aja aku gak tertarik”.
“ Kenapa? Dia populer loh dikampus ini”.
“ Udah deh Cha gak usah bahas cowok. Pokoknya aku gak tertarik”. Mencoba cuek dengan topik pembicaraan Ocha, Sica langsung melahap makanannya.
“ Lihat dulu... baru nanti ambil keputusan, oke”. Tanpa menunggu jawaban dari Jessica, Ocha langsung menelpon cowok yang dimaksudnya itu dan menyuruhnya datang.
“ Cha, apa-apaan sih kamu?”.
“ Udah tenang aja, akukan cuma mau ngenalin doang. Dia temen dekat aku, berarti dia juga teman dekat kamu. Jadi kalian harus saling kenal”. Ocha hanya senyum-senyum jahil melihat ekspresi bete Jessica.
Selang beberapa menit kemudian, seorang cowok tinggi tegap dengan rambut agak acak-acakan datang menemui keduanya. Cowok itu tidak lain adalah yang dulu bertemu dengan Jessica ditragedi tabrakan dan ban bocor.
“ Ada apaan Cha nyuruh aku kesini?”. Tanya cowok itu tanpa basa basi.
“ kamu?! Jadi ini Cha cowok yang kamu maksud itu?!”. Jessica langsung bereaksi begitu menyadari dia adalah cowok itu.
“ Iya, kenapa emangnya?. Oh ya, Ram kenalin ini Jessica temen baru aku. Jessica ini Rama temen deket aku”.
“ Aku udah pernah ketemu dia beberapa hari yang lalu. Jadi, namanya Jessica ya?. Nama yang cantik, sama seperti orangnya”. Ucap si cowok tanpa memperdulikan tatapan sinis Jessica.
“ Oh nama kamu Rama. Makasih pujiaanya, tapi aku gak tersanjung ”.
“ Mm... jadi kalian berdua pernah ketemu ya. Hehehe...”. Ocha sebenarnya bingung dengan tingkah Jessica dan Rama. Namun itu tetap mencoba mencairkan.
“ Iya kita pernah ketemu beberapa hari yang lalu”. Jawab cowok bernama Rama itu.
“ Oh ya Cha, sekarang aku mau ngisi les dulu nih. Ngobrolnya dilanjut ntar aja ya. Dah..”. Rama langsung berlalu pergi, ia memang terlihat buru-buru.
                Jessica dan Ocha sempat saling diam beberapa saat. Sampai kemudian Ocha memulai pembicaraan lagi dan semua masih tentang Rama.
“ Kamu pernah ketemu sama diakan? Tapi kenapa kok kamu kayaknya gak suka”. Tanya Ocha.
“ Kita memang pernah ketemu dua kali. Tapi aku ngerasa pertemuan kita itu seperti sesuatu yang diatur. Seolah-olah dia pengen pendekatan sama aku gitu. Aku trauma dengan gaya pendekatan cowok yang pura-pura gak sengaja menabrak, sok membantu, atau apalah yang klise-klise. Intinya semua itu hanya trik untuk mengajak aku kenalan. Klasik, dan itu membuatku muak”.
                Jessica kemudian menceritakan semua pengalaman masa lalunya pada Ocha. Pengalaman dengan mantan-mantannya yang hanya memanfaatkan kecantikan, popularitas, dan kekayaanya saja.
“ Itulah alasan kenapa aku pindah kuliah disini Cha”. Ucap Jessica menutup ceritanya.
“ Tapi penilaian kamu terhadap Rama salah. Aku sangat kenal dengan dia. Dia tipe cowok yang tidak bisa disamakan dengan mantan-mantan kamu itu. Asal kamu tau, dia belum pernah sekalipun pacaran. Walaupun banyak cewek yang tertarik padanya, dia tetap bertekad untuk tidak pacaran dulu”.
“ Oh ya? Kenapa?”.
“ Dia kuliah disini hanya mengandalkan beasiswa dan uang hasil dari mengisi les. Oleh karena itulah dia tidak mau kuliahnya berantakan hanya gara-gara pacaran”.
“ Oh...ja jadi begitu ya?”. Jessica tiba-tiba saja langsung merasa bersalah.
“ Tapi ya gak apa-apa, kamu gak salah kok. Lagipula siapa sih yang enggak trauma kalau dikhianati banyak cowok seperti itu”.
***
                Suasana langit malam ini cukup cerah. Bulan dan bintang yang bersinar terang semakin memperindah hamparannya. Jessica sangat menyukai pemandangan malam seperti itu. Sudah menjadi kesenangannya menikmati suasana malam dari balkon kamarnya yang menjorok keluar.
                Sedang asik-asiknya menikmati pemandangan langit malam itu, tiba-tiba bayangan tentang Rama melintas dikepalanya. Semua hal tentang Rama yang tadi siang diceritakan Ocha muncul silih berganti. Pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini. Dulu, walaupun dia banyak didekati cowok-cowok, tidak ada yang sampai terbawa pikiran seperti sekarang ini.
“ Apa mungkin Rama berbeda?”. Tanya Jessica pada dirinya sendiri.
                Malam kembali berganti siang. Saatnya Jessica kembali dengan rutinitasnya dikampus. Renungan malam tadi cukup membuatnya bersemangat pagi ini.
“ Wow....seger banget nih kayaknya”.
“ Iya dong Cha..., pagi harus semangat”.
                Aktifitas hari ini semua berjalan lancar. Semua dilewati Jessica dengan baik tanpa ada halangan apapun.
“ Cha, ngomong-ngomong... temen kamu Rama kemana?”.
“ Cie...udah mulai nanya-nanya nih. Kenapa emangnya?”.
“ Ya gak kenapa-kenapa? Emangnya salah ya aku nanya?”.
“ Ya enggaklah... malah bagus. Kalau jam-jam segini dia biasanya ngajar les. Kamu mau tau tempat dia ngajar enggak?”. Tawar Ocha bersemangat.
“ Mm...boleh deh”.
                Jessica dan Ocha kemudian berangkat menuju tempat dimana Rama biasa mengajar les. Entah kenapa... Jessica terlihat sangat antusias. Ocha pun menyadari ekspresi sahabat barunya itu.
                BMW 320i milik Jessica terus melaju dengan lembut menyusuri jalanan kota. Sampai kemudian Ocha menyuruh Jessica menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah mewah. Sesaat Jessica tertegun. Rumah yang didatanginya itu sangat familiar baginya. Tentu saja, karena rumah itu adalah milik tantenya. 
“ Sica, kok kamu bengong?”. Tanya Ocha bingung.
“ Cha, kata kamu Rama ngajar les. Kok datang kesini?”.
“ Ya iyalah... inikan tempat dia biasa ngajar les”.
“ Oh ya?”. Jessica sekarang benar-benar tertegun. Tempat dimana dulu dia dan Rama bertemu saat tragedi ban bocor lokasinya hanya beberapa meter dari sini.
“ Ya udah masuk yuk. Pemilik rumah ini orangnya baik kok. Aku sering nemenin Rama ngajar disini”.
“ Cha, kamu tau enggak?”.
“ Apa?”.
“ Ini adalah rumah tante aku”.
“ Hah? Rumah tante kamu?”.
“ Iya”.
                Pertemuan dirumah itu pun benar-benar diluar dugaan. Semuanya serba kebetulan dan tidak ada satu pun yang direncanakan seperti yang selama ini ada dipikiran Jessica. Ia kini percaya kalau Rama adalah cowok yang bener-bener beda dengan mantan-mantannya dulu.
“ Maaf ya Ram, kalau kemarin-kemarin aku sinis sama kamu”. Ucap Jessica mengawali pembicaraan.
“ Gak apa-apa, aku udah tau semuanya kok. Ocha udah banyak cerita tentang kamu”.
“ Oh ya?!”. Jessica langsung menoleh kearah Ocha.
“ Hehehe...sorry ya Sica..”. Ocha hanya cengar cengir tanpa dosa.
“ Jadi sekarang kita friendship nih?”. Tanya Rama.
“ Oh, tentu dong”. Jawab Jessica bersemangat. Namun entah kenapa hatinya tiba-tiba berdesir aneh. Ternyata yang klasik tak selamanya berbuah menyakitkan.
THE END
By.Soneboy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar