Cantik, kaya, dan populer bagi
sebagian orang terutama cewek mungkin itu adalah impian. Walaupun pada kenyataannya itu semua belum
tentu memberikan kebahagiaan. Seperti apa yang dialami oleh Jessica. Cewek
tercantik dan paling populer diuniversitas bergengsi ini tidak bisa merasakan
kebahagiaan atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Padahal dia adalah putri
tunggal dari sebuah keluarga pengusaha kaya. Perfect, mungkin itu yang ada
dibayangan orang jika melihat sosok Jessica. Namun bagi dirinya sendiri justru
ia merasa sebaliknya.
Sica
memang cantik, populer, dan kaya. Namun ternyata semua itu tidak bisa
memberikan kebahagiaan. Apa yang diperoleh dari kelebihan-kelebihannya itu
malah membuat pedih dirinya. Kecantikannya ternyata hanya dapat menarik mata
para kaum adam yang melihat perempuan dari fisik belaka. Popularitasnya dan
juga kekayaannya dimanfaatkan hanya oleh orang disekitarnya yang tidak
bertanggung jawab. Intinya, tidak ada yang tulus berteman atau mendekati dia
selama ini. Semua didasarkan karena kecantikan, popularitas, dan kekayaannya
saja. Itulah alasan mengapa Jessica tidak pernah merasakan kebahagiaan selama
ini.
Salah
satu hal menyakitkan yang dialami Jessica adalah berkaitan dengan kehidupan
cintanya. Dimana mantan kekasihnya dulu mendekati dirinya hanya karena ingin
memperoleh warisan dari ayahnya saja. Sica percaya pada cowok itu karena dia
memang teman satu kampusnya dan sangat dekat dengannya. Tapi ternyata segala
perhatian dan kebaikannya memiliki tujuan lain yang tidak ada hubungannya
dengan kata cinta yang sering kali diucapkannya.
Kini
Jessica tidak kuliah ditempat yang sama lagi. Ia sengaja ingin mencari
lingkungan dan suasana baru. Ia benci teman-teman lamanya yang hanya
memanfaatkannya. Ia juga benci mantannya yang tidak tulus cinta padanya. Ia
benci semua itu dan ingin memulai hal baru. Dan....satu kejadian mengawali
semuanya itu.
Saat
itu, Jessica sedang berjalan menuju tempat parkiran mobilnya dikampus barunya.
Namun diperjalanan tiba-tiba seorang cowok menabraknya. Semua buku yang
kebetulan Jessica bawa jatuh berantakan. Si cowok itu pun tentu membantu
memungut dan merapihkannya. Namun belum sempat si cowok membantu, Jessica
langsung mengatakan kata-kata sinis padanya.
“ Aku udah bosan dengan semua ini!. Kamu sengajakan
nabrak aku?!”. Bentak Jessica.
Mendengar
tuduhan cewek yang ditabraknya si cowok tidak berkomentar. Ia hanya membalas
tatapan Jessica dengan senyum yang tidak kalah sinis. Diam beberapa saat, lalu
langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jessica
berkata sinis pada cowok itu karena ia merasa apa yang dilakukan cowok itu
adalah acting. Cuma pura-pura menabraknya yang pada akhirnya meminta kenalan.
Gaya pendekatan klasik yang baginya sungguh memuakan. Kebanyakan
mantan-mantannya adalah cowok yang menggunakan cara pendekatan yang norak
seperti itu. Ia tidak mau menjadi korbannya lagi.
Selang
beberapa hari kemudian Jessica secara tidak sengaja ketemu lagi dengan cowok
yang menabraknya waktu itu. Namun kali ini cowok itu datang sebagai penolong
untuk Jessica. Kebetulan saat itu ban mobil BMW 320i milik Jessica bocor.
“ Bisa aku bantu?”. Ucap si cowok menawarkan diri.
“ Gak usah. Aku bisa pulang naik taksi dan mobil ini
biar supirku yang mengurus. Aku gak butuh bantuan kamu. Lagipula aku bisa main
ketempat tanteku dulu. Rumahnya deket kok dari sini”. Menyadari cowok itu yang
dulu menabraknya, Jessica lagi-lagi langsung berkata sinis.
“ Oh, oke kalau gitu. Akukan hanya menawarkan
bantuan. Jika kamu gak bersedia ya gak apa-apa”.
“ Kenapa sih harus kamu? Atau jangan-jangan kamu
memang buntutin aku dari tadi, iya?”. Bukannya berterima kasih sudah ditawari
bantuan, Jessica malah justru menuduh si cowok.
“ Buntutin kamu? Yang benar saja. Kamu make mobil dan
aku jalan kaki, ya gak mungkinlah”. Jawab si cowok santai dan memang benar si
cowok hanya berjalan kaki. Sekilas Sica merasa bersalah. Namun ia tetap
berusaha menjaga gengsinya.
“ Ya bisa saja. Kalau enggak, terus kenapa kamu
tiba-tiba ada disini?”.
“ Apa perlu aku jelaskan alasan kenapa aku ada
disini?”. Si cowok yang merasa dituduh mulai merasa kesal.
“ Iya!!, kamu harus jelasin. Kamu gak bisakan?!”.
“ Hm, sepertinya hanya buang-buang waktu bicara
dengan cewek seperti kamu. Permisi”. Ucap cowok itu sebelum kemudian berlalu
pergi. Si cowok memang benar-benar jalan kaki, karena tidak berapa lama
kemudian ia terlihat naik kesebuah bis yang kebetulan melewatinya.
Sesaat
Jessica sempat berfikir kalau cowok tadi mungkin saja benar. Karena jika
dipikirkan, kecil kemungkinan kalau semua kejadian tadi adalah kesengajaan. Namun
Jessica tetap menyangkal pikiran sekilasnya itu. Ia tetap menyangka kalau itu
semua adalah trik si cowok untuk mencoba mendekatinya.
***
Jessica
memang trauma dengan pengalaman dengan mantan-mantannya dulu. Dimana hampir
dari semua cowok itu mendekatinya dengan cara klasik. Namun entah kenapa,
tragedi tabrakan dan ban bocor itu justru malah menjadi bahan pikirannya
sekarang ini. Bayangan cowok yang sama sekali tidak ia kenal itu terus saja
muncul dikepalanya.
“ Sica, kenapa sih dari tadi bengong terus?”. Tanya
Ocha, sahabat baru Jessica.
“ Eh, gak apa-apa kok. Sorry ya Cha”. Jessica baru
sadar kalau sedari tadi makanan yang dipesannya dikantin itu belum disentuh
sedikitpun.
“ Mikirin cowok ya?”. Tebak Ocha kemudian.
“ Enggak kok, ngapain mikirin cowok. Gak penting”.
“ Ngomong-ngomong soal cowok...mau enggak aku kenalin
dengan seseorang?”.
“ Siapa?, jangan bilang kamu mau jodohin aku”.
“ Memangnya kenapa kalau aku jodohin?. Cowok dikampus
ini gak seperti dikampus kamu dulu”.
“ Tetep aja aku gak tertarik”.
“ Kenapa? Dia populer loh dikampus ini”.
“ Udah deh Cha gak usah bahas cowok. Pokoknya aku gak
tertarik”. Mencoba cuek dengan topik pembicaraan Ocha, Sica langsung melahap
makanannya.
“ Lihat dulu... baru nanti ambil keputusan, oke”.
Tanpa menunggu jawaban dari Jessica, Ocha langsung menelpon cowok yang
dimaksudnya itu dan menyuruhnya datang.
“ Cha, apa-apaan sih kamu?”.
“ Udah tenang aja, akukan cuma mau ngenalin doang.
Dia temen dekat aku, berarti dia juga teman dekat kamu. Jadi kalian harus
saling kenal”. Ocha hanya senyum-senyum jahil melihat ekspresi bete Jessica.
Selang beberapa menit kemudian, seorang
cowok tinggi tegap dengan rambut agak acak-acakan datang menemui keduanya. Cowok
itu tidak lain adalah yang dulu bertemu dengan Jessica ditragedi tabrakan dan
ban bocor.
“ Ada apaan Cha nyuruh aku kesini?”. Tanya cowok itu
tanpa basa basi.
“ kamu?! Jadi ini Cha cowok yang kamu maksud itu?!”.
Jessica langsung bereaksi begitu menyadari dia adalah cowok itu.
“ Iya, kenapa emangnya?. Oh ya, Ram kenalin ini
Jessica temen baru aku. Jessica ini Rama temen deket aku”.
“ Aku udah pernah ketemu dia beberapa hari yang lalu.
Jadi, namanya Jessica ya?. Nama yang cantik, sama seperti orangnya”. Ucap si
cowok tanpa memperdulikan tatapan sinis Jessica.
“ Oh nama kamu Rama. Makasih pujiaanya, tapi aku gak
tersanjung ”.
“ Mm... jadi kalian berdua pernah ketemu ya.
Hehehe...”. Ocha sebenarnya bingung dengan tingkah Jessica dan Rama. Namun itu
tetap mencoba mencairkan.
“ Iya kita pernah ketemu beberapa hari yang lalu”.
Jawab cowok bernama Rama itu.
“ Oh ya Cha, sekarang aku mau ngisi les dulu nih.
Ngobrolnya dilanjut ntar aja ya. Dah..”. Rama langsung berlalu pergi, ia memang
terlihat buru-buru.
Jessica
dan Ocha sempat saling diam beberapa saat. Sampai kemudian Ocha memulai
pembicaraan lagi dan semua masih tentang Rama.
“ Kamu pernah ketemu sama diakan? Tapi kenapa kok
kamu kayaknya gak suka”. Tanya Ocha.
“ Kita memang pernah ketemu dua kali. Tapi aku
ngerasa pertemuan kita itu seperti sesuatu yang diatur. Seolah-olah dia pengen
pendekatan sama aku gitu. Aku trauma dengan gaya pendekatan cowok yang
pura-pura gak sengaja menabrak, sok membantu, atau apalah yang klise-klise.
Intinya semua itu hanya trik untuk mengajak aku kenalan. Klasik, dan itu
membuatku muak”.
Jessica
kemudian menceritakan semua pengalaman masa lalunya pada Ocha. Pengalaman
dengan mantan-mantannya yang hanya memanfaatkan kecantikan, popularitas, dan
kekayaanya saja.
“ Itulah alasan kenapa aku pindah kuliah disini Cha”.
Ucap Jessica menutup ceritanya.
“ Tapi penilaian kamu terhadap Rama salah. Aku sangat
kenal dengan dia. Dia tipe cowok yang tidak bisa disamakan dengan mantan-mantan
kamu itu. Asal kamu tau, dia belum pernah sekalipun pacaran. Walaupun banyak
cewek yang tertarik padanya, dia tetap bertekad untuk tidak pacaran dulu”.
“ Oh ya? Kenapa?”.
“ Dia kuliah disini hanya mengandalkan beasiswa dan
uang hasil dari mengisi les. Oleh karena itulah dia tidak mau kuliahnya
berantakan hanya gara-gara pacaran”.
“ Oh...ja jadi begitu ya?”. Jessica tiba-tiba saja
langsung merasa bersalah.
“ Tapi ya gak apa-apa, kamu gak salah kok. Lagipula
siapa sih yang enggak trauma kalau dikhianati banyak cowok seperti itu”.
***
Suasana
langit malam ini cukup cerah. Bulan dan bintang yang bersinar terang semakin
memperindah hamparannya. Jessica sangat menyukai pemandangan malam seperti itu.
Sudah menjadi kesenangannya menikmati suasana malam dari balkon kamarnya yang
menjorok keluar.
Sedang
asik-asiknya menikmati pemandangan langit malam itu, tiba-tiba bayangan tentang
Rama melintas dikepalanya. Semua hal tentang Rama yang tadi siang diceritakan
Ocha muncul silih berganti. Pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini. Dulu,
walaupun dia banyak didekati cowok-cowok, tidak ada yang sampai terbawa pikiran
seperti sekarang ini.
“ Apa mungkin Rama berbeda?”. Tanya Jessica pada
dirinya sendiri.
Malam
kembali berganti siang. Saatnya Jessica kembali dengan rutinitasnya dikampus. Renungan
malam tadi cukup membuatnya bersemangat pagi ini.
“ Wow....seger banget nih kayaknya”.
“ Iya dong Cha..., pagi harus semangat”.
Aktifitas
hari ini semua berjalan lancar. Semua dilewati Jessica dengan baik tanpa ada
halangan apapun.
“ Cha, ngomong-ngomong... temen kamu Rama kemana?”.
“ Cie...udah mulai nanya-nanya nih. Kenapa
emangnya?”.
“ Ya gak kenapa-kenapa? Emangnya salah ya aku
nanya?”.
“ Ya enggaklah... malah bagus. Kalau jam-jam segini
dia biasanya ngajar les. Kamu mau tau tempat dia ngajar enggak?”. Tawar Ocha
bersemangat.
“ Mm...boleh deh”.
Jessica
dan Ocha kemudian berangkat menuju tempat dimana Rama biasa mengajar les. Entah
kenapa... Jessica terlihat sangat antusias. Ocha pun menyadari ekspresi sahabat
barunya itu.
BMW
320i milik Jessica terus melaju dengan lembut menyusuri jalanan kota. Sampai
kemudian Ocha menyuruh Jessica menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah
mewah. Sesaat Jessica tertegun. Rumah yang didatanginya itu sangat familiar
baginya. Tentu saja, karena rumah itu adalah milik tantenya.
“ Sica, kok kamu bengong?”. Tanya Ocha bingung.
“ Cha, kata kamu Rama ngajar les. Kok datang
kesini?”.
“ Ya iyalah... inikan tempat dia biasa ngajar les”.
“ Oh ya?”. Jessica sekarang benar-benar tertegun.
Tempat dimana dulu dia dan Rama bertemu saat tragedi ban bocor lokasinya hanya
beberapa meter dari sini.
“ Ya udah masuk yuk. Pemilik rumah ini orangnya baik
kok. Aku sering nemenin Rama ngajar disini”.
“ Cha, kamu tau enggak?”.
“ Apa?”.
“ Ini adalah rumah tante aku”.
“ Hah? Rumah tante kamu?”.
“ Iya”.
Pertemuan
dirumah itu pun benar-benar diluar dugaan. Semuanya serba kebetulan dan tidak
ada satu pun yang direncanakan seperti yang selama ini ada dipikiran Jessica. Ia
kini percaya kalau Rama adalah cowok yang bener-bener beda dengan
mantan-mantannya dulu.
“ Maaf ya Ram, kalau kemarin-kemarin aku sinis sama
kamu”. Ucap Jessica mengawali pembicaraan.
“ Gak apa-apa, aku udah tau semuanya kok. Ocha udah
banyak cerita tentang kamu”.
“ Oh ya?!”. Jessica langsung menoleh kearah Ocha.
“ Hehehe...sorry ya Sica..”. Ocha hanya cengar cengir
tanpa dosa.
“ Jadi sekarang kita friendship nih?”. Tanya Rama.
“ Oh, tentu dong”. Jawab Jessica bersemangat. Namun
entah kenapa hatinya tiba-tiba berdesir aneh. Ternyata yang klasik tak
selamanya berbuah menyakitkan.
THE END
By.Soneboy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar