Senin, 03 Maret 2014

Seoul Tower In Love



Hari ini adalah tepat satu bulan aku berada di Indonesia setelah selama tiga tahun aku menempuh pendidikan S2 di Kyung Hee University Korea Selatan. Hm...selama satu bulan ini aku lampiaskan semua kerinduanku akan tanah air tercinta ini. Makanannya, udaranya, dan suasananya yang selama tiga tahun tidak aku rasakan.
                Namun..., entah kenapa sejak kepulanganku ini aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam diriku. Sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti itu apa. Yang jelas aku merasa kesepian dan hampa. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan Yuna?. Oh ya, Yuna adalah gadis asal Korea yang selama aku menempuh pendidikan disana menjadi sahabat baikku.  Gadis periang yang smart dan juga enerjik. Jujur, kehadirannya membuat hari-hariku berjalan menyenangkan selama di Korea. Tidak seperti gadis Korea pada umumnya, Yuna sama sekali tidak merasa takut atau pun canggung dengan orang asing sepertiku. Padahal aku adalah cowok asing yang mungkin pertama kali dikenalnya. Aku teringat kalimat percakapan dengannya saat pertama kali kenal dulu.
“ Apa kamu orang Indonesia?”. Tanya Yuna. Aku yang saat itu sedang membaca buku langsung menoleh kearahnya sedikit kaget.
“ Dari mana kamu tau?”. Tanyaku balik.
“ Hahaha...ya taulah. Kamu memakai jaket bertanda bendera Indonesia”. Jawabnya dengan senyum manis yang sangat mengesankan. Kita belum saling mengenal saat itu, namun dia tiba-tiba hadir seolah kita sudah saling menganal dekat. Ekspresinya tidak  menunjukan rasa canggung sama sekali dan itu tentu membuatku merasa akrab juga.
“ Aku suka dengan Indonesia”. Ucapnya lagi seraya tersenyum kearahku.
“ Oh ya?”.
“ Iya. Menurutku...orang disana baik-baik. Dulu...waktu kecil aku pernah sebentar tinggal di Indonesia. Saat itu papahku kerja disalah satu perusahaan disana selama empat tahun”.
“ Oh ya, namaku Yuna”. Ia mengulurkan tangannya mengajak kenalan. Tentu aku langsung membalas uluran tangannya.
“ Aku Rama”. Jawabku kemudian.
                Sejak perkenalan itu kami sering bertemu. Bahkan dialah orang yang mengenalkanku banyak hal tentang Korea. Bahasa, budaya, festival-festival unik, dan berbagai tempat menarik yang ada di negeri ginseng ini semua ia kenalkan padaku. Intinya, dia adalah satu-satunya orang asli Korea yang sangat dekat denganku. Bahkan teman-teman Indonesiaku sampai tak percaya kalau aku bisa punya teman dekat orang asli korea, cewek lagi. Tidak sedikit diantara mereka yang bilang kalau Yuna adalah soulmate buatku.
” Duh...yang punya soulmate cewek korea..., ampe lupa nih sama temen satu tanah air”. Ledek salah satu teman Indonesiaku saat kita berkumpul di KBRI.
“ Cuma temen kok, gak usah pada heboh gitu lah...”.
“ Dari temen bisa demen tuh, hehehe...”. Ledek yang lainnya lagi. Aku seolah menjadi objek empuk untuk perbincangan mereka saat berkumpul. Soalnya...selain aku gak ada mahasiswa Indonesia yang punya kenalan cewek asli korea seperti antara aku dan Yuna.
“ Gak mungkinlah aku demen. Kitakan beda keyakinan”.
“ Apa sih yang gak bisa kalau udah cinta”.
“ Gak lah, kita pure only friend”. Ucapku menegaskan.
***
                Aku dan Yuna memang hanya teman. Selama ini kita jalan bersama pun murni sebagai seorang teman. Hanya saja...., apa yang dikatakan teman-temanku waktu di KBRI sempat mengusik pikiranku. Apa mungkin aku suka dengan Yuna? Dia memang gadis yang menyenangkan. Selain itu dia juga cantik, baik, dan mandiri. Tapi masalahnya...kita berbeda keyakinan. Aku gak tau agama apa yang dia anutnya selama ini karena memang kita tidak pernah membahasnya.
                Tapi walau begitu, aku mengenal dia dan dia adalah gadis yang baik. Mungkin itulah yang membuatku suka sama dia. Suatu hari saat kita jalan bersama dan kebetulan sedang lewat dikawasan Myeongdong tiba-tiba ia menunjuk satu bangunan. Bangunan itu ternyata adalah sebuah tempat untuk operasi plastik.
“ Itu adalah tempat untuk operasi plastik”. Ucapnya tiba-tiba.
“ Orang korea sudah menganggap operasi plastik adalah hal biasa yang tidak tabu lagi. Tapi jujur, buat aku hal itu tetap saja tabu”.
“ Oh ya? Kenapa?”. Tanyaku penasaran.
“ Iya, karena dengan operasi plastik berarti kita merubah apa yang sudah diberikankan Tuhan untuk kita. Dan itu berarti kita tidak tau terima kasih”.
“ Ya...lagi pula kamu memang tidak butuk operasi plastik. Kamukan udah cantik”.
“ Oh ya?”.
“ Iya”.
                Dari situ aku tau walaupun Yuna berbeda keyakinan, dia masih memegang teguh nilai-nilai bersyukur. Selain itu, aku juga tau kalau Yuna tidak pernah meminum soju[1] seperti masyaratak Korea pada umumnya. Dia lebih suka memilih softdrink ketimbang minuman beralkohol. Aku tau karena suatu ketika aku pernah berkumpul dan makan-makan bersama teman-teman koreanya. Lagi-lagi sifat unik Yuna membuatku semakin suka padanya.
***
                Menginjak tahun ketiga, aku semakin dekat dengan Yuna. Dan kebersamaanku selama ini membuat rasa sukaku berubah menjadi rasa cinta. Yah, aku benar-benar telah jatuh cinta sama gadis korea bernama Yuna itu. Namun... karena masa pendidikanku akan habis dan aku harus kembali ke Indonesia, akhirnya aku hanya bisa memendam perasaanku.
Sampai suatu hari...
“ Rama, kamu... beberapa bulan lagi mau lulus ya?”.
“ Iya”.
“ Berarti... kamu akan kembali ke Indonesia?”.
“ Iya”.
                Mendengar jawabanku itu tiba-tiba ekspresi wajah Yuna berubah murung. Apakah dia sedih dengan kembalinya aku ke Indonesia?.
“ Aku bahagia kamu berhasil menyelesaikan pendidikan kamu. Tapi disisi lain aku juga sedih kalau harus kehilangan sahabat seperti kamu dan itu berarti aku kehilangan untuk kedua kalinya”. Ucap Yuna.
“ Kedua kalinya?”. Aku belum mengerti dengan perkataannya.
“ Iya. Sebelumnya aku juga punya sahabat yang selalu mengisi hari-hariku sama seperti kamu dan dia adalah orang Indonesia”.
” Oh ya? Apakah dia mahasiswa juga? Siapa?”. Tanyaku lagi semakin penasaran.
“ Bukan, tapi dia adalah sahabat masa kecilku. Aku kenal dengannya saat aku masih tinggal di Indonesia. Namanya....Raditya”.
“ Dia baik... sekali. Bahkan dia pernah menolongku dari anak-anak nakal yang suka menggangguku. Intinya dia adalah pahlawanku saat itu”. Ucap Yuna lagi.
“ Sebentar deh, tadi kamu bilang nama sahabat kecil kamu itu Raditya?”.
“ Iya, kenapa?”.
“ Apakah nama lengkapnya Raditya Mahadika?”. Tanyaku lagi.
 “ Bagaimana kamu bisa tau?”.
“ Ya Tuhan, Raditya Mahadika adalah nama lengkapku. Dan aku juga punya sahabat masa kecil perempuan yang sangat lucu bernama Im Yoon Ah. Apakah... i itu...ka kamu?”.
“ Iya, aku Im Yoon Ah. Ja Jadi... jadi kamu ternyata sahabat masa kecilku?”.
                Menyadari kenyataan itu sungguh membuatku tertegun tak percaya. Ternyata teman yang menjalani keseharian bersamaku selama ini adalah si chubby Im Yoon Ah. Dia memang tidak mengenalkanku dengan nama panggilan Yuna. Begitupun sebaliknya, aku juga tidak mengenalkan namaku dengan panggilan Rama waktu itu. Jadi, wajar kalau diantara kita tidak ada yang menyadari. Terlebih... masing-masing dari kita tentu sudah banyak yang berubah. Apalagi dia yang sekarang terlihat semakin cantik. Mirip sekali dengan personel girlband Korea SNSD Yoona.        
“ Pantas saja aku selalu merasa nyama berada didekat kamu. Kamu memang Raditya kecilku”. Ucap Yuna sebelum kemudian memelukku dengan berderaian air mata. Ia menangis sesegukan dipelukanku seolah aku adalah orang yang sudah lama dinantinya selama ini. Entah ini jodoh atau bukan, yang jelas semuanya terjadi secara kebetulan.
“ Aku mohon kamu jangan pergi. Hiks hiks hiks”. Ucapnya sembari masih menangis.
                Jujur, aku pun ingin selamanya bersama dia. Tapi bagaimanapun aku harus tetap kembali ke Indonesia. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan mengabdikan ilmuku untuk negeriku Indonesia.
“ Radit, kamu akan tetap tinggal disinikan? Jawab Radit?”. Aku semakin merasakan dilema mendengar pertanyaan Yuna. Aku cinta sama dia dan aku tidak ingin berpisah dengannya. Tapi disisi lain aku punya tanggungjawab besar yang sudah menjadi janjiku.
“ Aku mohon jawab aku Radit”.
“ Jujur, aku juga tidak ingin berpisah dengan kamu karena selama ini aku sebenarnya cinta sama kamu. Aku sangat cinta sama kamu Yuna”.
“ Kalau begitu aku mohon kamu jangan pergi”.
“ Tapi... aku harus tetap kembali ke Indonesia”. Aku pandangi wajah Yuna untuk meyakinkan kalau aku benar-benar cinta padanya. Namun aku malah membuatnya semakin berkaca-kaca. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi dia berlari pergi diringi tangisnya. Sementara aku, bukannya mengejar dia aku malah tertegun bingung dengan dilemaku yang tiba-tiba itu.
                Dua bulan sejak pertemuan itu aku tidak bertemu lagi dengan Yuna. Kita benar-benar loss contact. Handphonenya tidak pernah aktif lagi, bahkan aku bertanya kepada teman-temannya pun tidak ada yang tau dia berada dimana. Padahal tinggal menghitung hari aku akan kembali ke Indonesia. Teman-teman Indonesiaku bahkan sampai berkali-kali memakiku karena kebodohanku membiarkannya pergi.
“ Kenapa kamu gak mengejar dia waktu itu? Hanya sebatas itu rasa cinta kamu?!”.
“ Oke aku tau aku salah. Aku sangat menyesal karena kebodohanku itu”.
“ Lalu apa rencana kamu sekarang Ram?”. Tanya temanku yang lainnya.
“ Aku tidak akan pulang sebelum aku kembali menemukan Yuna”.
“ Apakah itu berarti kamu akan mengajak dia tinggal di Indonesia?”.
“ Entahlah, yang jelas aku harus menemukannya dulu”.
                Berbagai upaya aku lakukan untuk mencari Yuna. Aku tanyai semua teman-temannya, bahkan aku datangi alamat rumahnya. Namun entah kemana penghuninya, rumah itu hanya teronggok sepi. Tapi kemudian seorang ahjuma tiba-tiba datang menghampiriku.
“ Jika kamu cinta, temui dia di Seoul Tower malam ini”. Ucap ahjuma itu tanpa menjelaskan apa-apa lagi. Tanpa pikir panjang malamnya aku pun langsung pergi ke Seoul Tower.
                Seoul Tower adalah sebuah icon kota Seoul yang selalu menjadi tujuan wisata favorit masyarakat lokal dan mancanegara yang tengah berkunjung ke Korea. Menara setinggi 236,7 meter ini memiliki keunikan sendiri yang menjadi daya tarik utamanya. Diantaranya adalah di Seoul Tower terdapat mitos yang dipopuler masyarakat setempat dan bahkan para wisatawan. Mitos itu adalah gembok cinta, yaitu jika sepasang kekasih menuliskan permohonan dan permohonan itu ditaruh  dengan gembok dipagar Seoul Tower, maka permohonannya itu akan terkabul. Entah benar atau tidak yang jelas mitos itu sangat populer. Alhasil, setip pengunjung yang datang kesini pasti menaruh gembok permohonannya dipagar Seoul Tower. So, sudah tak terhitung lagi banyaknya gembok yang terpasang dipagar itu.
                Sesampainya diatas Seoul Tower aku langsung mengarahkan pandanganku kesekeliling mencari seseorang. Dan....seorang cewek tinggi bertubuh langsing dengan mantel tebal membalut tubuhnya menarik perhatianku.
 “ Aku tau kamu kecewa dan marah sama aku. Tapi aku sangat kehilangan kamu Yuna”. Ucapku kemudian mencoba mengawali.
“ kamu akhirnya datang juga Radit. Kamu tau?, setiap hari aku menunggu kamu disini. Tapi kamu gak salah kok, aku yang salah karena memang aku sengaja memutus kontak dari kamu”. Yuna membalikan badan dan mulai menghadapku. Wajah cantiknya kini terlihat dari cerah dari terakhir kali kita bertemu.
“ Aku gak berhak menahan kamu untuk pergi Radit. Walaupun berat, tapi aku sekarang mengerti kok. Pulanglah, banyak yang membutuhkan ilmu kamu di Indonesia”.
“ Tapi aku sebenarnya sangat berat meninggalkan kamu Yuna. Aku sayang sama kamu”.
“ Aku tau. Oh ya, kamu masih ingat tentang Gembok Cinta?. Kamu bersediakan menulis sesuatu untuk kita berdua sebelum kamu pergi?”. Pinta Yuna sembari mengeluarkan sebuah gembok dan secarik kertas berwarna kuning ditangannya.
“ Tentu saja”. Jawabku mantap.
                Ditemani hembusan angin malam dan kilauan bintang aku dan Yuna menulis sebuah harapan dipagar Seoul Tower dan....klik, sebuah gembok untuk mengunci harapan itupun terpasang sudah. Sebenarnya aku tidak mempercayai mitos, tapi biarlah. Toh tidak ada salahnya menulis sebuah harapan.
“ Selamat jalan Radit. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti”. Mata indah Yuna mulai berkaca-kaca. Dan air matanya pun mengalir tak tertahankan lagi. Dia menangis dihadapanku dengan wajah tersenyum. Ku hapus air matanya itu lalu aku peluk dia.
***
                Ting tong!!!  Suara bel dari pintu depan langsung membuyarkan lamunanku.  Bergegas aku pun langsung bangkit dari ruang keluarga menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
“ Apa Kabar Radit?”. Tanya seorang cewek begitu aku membuka pintu.
“ Yuna?!”.
THE END

Created By: Soneboy



               





               
               


[1] Sejenis minuman beralkohol khas Korea

Tidak ada komentar:

Posting Komentar