Hari ini adalah tepat satu bulan aku berada di Indonesia
setelah selama tiga tahun aku menempuh pendidikan S2 di Kyung Hee University
Korea Selatan. Hm...selama satu bulan ini aku lampiaskan semua kerinduanku akan
tanah air tercinta ini. Makanannya, udaranya, dan suasananya yang selama tiga
tahun tidak aku rasakan.
Namun..., entah kenapa sejak
kepulanganku ini aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam diriku. Sesuatu yang
aku sendiri tidak mengerti itu apa. Yang jelas aku merasa kesepian dan hampa.
Mungkinkah ini ada kaitannya dengan Yuna?. Oh ya, Yuna adalah gadis asal Korea
yang selama aku menempuh pendidikan disana menjadi sahabat baikku. Gadis periang yang smart dan juga enerjik.
Jujur, kehadirannya membuat hari-hariku berjalan menyenangkan selama di Korea. Tidak
seperti gadis Korea pada umumnya, Yuna sama sekali tidak merasa takut atau pun
canggung dengan orang asing sepertiku. Padahal aku adalah cowok asing yang
mungkin pertama kali dikenalnya. Aku teringat kalimat percakapan dengannya saat
pertama kali kenal dulu.
“ Apa kamu orang Indonesia?”. Tanya
Yuna. Aku yang saat itu sedang membaca buku langsung menoleh kearahnya sedikit
kaget.
“ Dari mana kamu tau?”. Tanyaku balik.
“ Hahaha...ya taulah. Kamu memakai jaket
bertanda bendera Indonesia”. Jawabnya dengan senyum manis yang sangat
mengesankan. Kita belum saling mengenal saat itu, namun dia tiba-tiba hadir
seolah kita sudah saling menganal dekat. Ekspresinya tidak menunjukan rasa canggung sama sekali dan itu tentu
membuatku merasa akrab juga.
“ Aku suka dengan Indonesia”. Ucapnya
lagi seraya tersenyum kearahku.
“ Oh ya?”.
“ Iya. Menurutku...orang disana baik-baik. Dulu...waktu
kecil aku pernah sebentar tinggal di Indonesia. Saat itu papahku kerja disalah
satu perusahaan disana selama empat tahun”.
“ Oh ya, namaku Yuna”. Ia mengulurkan
tangannya mengajak kenalan. Tentu aku langsung membalas uluran tangannya.
“ Aku Rama”. Jawabku kemudian.
Sejak perkenalan itu kami sering
bertemu. Bahkan dialah orang yang mengenalkanku banyak hal tentang Korea.
Bahasa, budaya, festival-festival unik, dan berbagai tempat menarik yang ada di
negeri ginseng ini semua ia kenalkan padaku. Intinya, dia adalah satu-satunya
orang asli Korea yang sangat dekat denganku. Bahkan teman-teman Indonesiaku
sampai tak percaya kalau aku bisa punya teman dekat orang asli korea, cewek
lagi. Tidak sedikit diantara mereka yang bilang kalau Yuna adalah soulmate buatku.
” Duh...yang punya soulmate cewek korea..., ampe
lupa nih sama temen satu tanah air”. Ledek salah satu teman Indonesiaku
saat kita berkumpul di KBRI.
“ Cuma temen kok, gak usah pada heboh gitu
lah...”.
“ Dari temen bisa demen tuh, hehehe...”. Ledek
yang lainnya lagi. Aku seolah menjadi objek empuk untuk perbincangan mereka
saat berkumpul. Soalnya...selain aku gak ada mahasiswa Indonesia yang punya
kenalan cewek asli korea seperti antara aku dan Yuna.
“ Gak mungkinlah aku demen. Kitakan beda
keyakinan”.
“ Apa sih yang gak bisa kalau udah cinta”.
“ Gak lah, kita pure only friend”.
Ucapku menegaskan.
***
Aku dan Yuna memang hanya teman.
Selama ini kita jalan bersama pun murni sebagai seorang teman. Hanya saja....,
apa yang dikatakan teman-temanku waktu di KBRI sempat mengusik pikiranku. Apa
mungkin aku suka dengan Yuna? Dia memang gadis yang menyenangkan. Selain itu
dia juga cantik, baik, dan mandiri. Tapi masalahnya...kita berbeda keyakinan.
Aku gak tau agama apa yang dia anutnya selama ini karena memang kita tidak
pernah membahasnya.
Tapi walau begitu, aku mengenal
dia dan dia adalah gadis yang baik. Mungkin itulah yang membuatku suka sama
dia. Suatu hari saat kita jalan bersama dan kebetulan sedang lewat dikawasan
Myeongdong tiba-tiba ia menunjuk satu bangunan. Bangunan itu ternyata adalah
sebuah tempat untuk operasi plastik.
“ Itu adalah tempat untuk operasi plastik”. Ucapnya
tiba-tiba.
“ Orang korea sudah menganggap operasi
plastik adalah hal biasa yang tidak tabu lagi. Tapi jujur, buat aku hal itu
tetap saja tabu”.
“ Oh ya? Kenapa?”. Tanyaku penasaran.
“ Iya, karena dengan operasi plastik berarti
kita merubah apa yang sudah diberikankan Tuhan untuk kita. Dan itu berarti kita
tidak tau terima kasih”.
“ Ya...lagi pula kamu memang tidak butuk
operasi plastik. Kamukan udah cantik”.
“ Oh ya?”.
“ Iya”.
Dari
situ aku tau walaupun Yuna berbeda keyakinan, dia masih memegang teguh
nilai-nilai bersyukur. Selain itu, aku juga tau kalau Yuna tidak pernah meminum
soju[1]
seperti masyaratak Korea pada umumnya. Dia lebih suka memilih softdrink ketimbang minuman beralkohol.
Aku tau karena suatu ketika aku pernah berkumpul dan makan-makan bersama
teman-teman koreanya. Lagi-lagi sifat unik Yuna membuatku semakin suka padanya.
***
Menginjak tahun ketiga, aku
semakin dekat dengan Yuna. Dan kebersamaanku selama ini membuat rasa sukaku
berubah menjadi rasa cinta. Yah, aku benar-benar telah jatuh cinta sama gadis
korea bernama Yuna itu. Namun... karena masa pendidikanku akan habis dan aku
harus kembali ke Indonesia, akhirnya aku hanya bisa memendam perasaanku.
Sampai suatu hari...
“ Rama, kamu... beberapa bulan lagi mau
lulus ya?”.
“ Iya”.
“ Berarti... kamu akan kembali ke
Indonesia?”.
“ Iya”.
Mendengar jawabanku itu
tiba-tiba ekspresi wajah Yuna berubah murung. Apakah dia sedih dengan
kembalinya aku ke Indonesia?.
“ Aku bahagia kamu berhasil menyelesaikan
pendidikan kamu. Tapi disisi lain aku juga sedih kalau harus kehilangan sahabat
seperti kamu dan itu berarti aku kehilangan untuk kedua kalinya”. Ucap
Yuna.
“ Kedua kalinya?”. Aku belum mengerti
dengan perkataannya.
“ Iya. Sebelumnya aku juga punya sahabat
yang selalu mengisi hari-hariku sama seperti kamu dan dia adalah orang
Indonesia”.
” Oh ya? Apakah dia mahasiswa juga? Siapa?”.
Tanyaku lagi semakin penasaran.
“ Bukan, tapi dia adalah sahabat masa
kecilku. Aku kenal dengannya saat aku masih tinggal di Indonesia. Namanya....Raditya”.
“ Dia baik... sekali. Bahkan dia pernah
menolongku dari anak-anak nakal yang suka menggangguku. Intinya dia adalah
pahlawanku saat itu”. Ucap Yuna lagi.
“ Sebentar deh, tadi kamu bilang nama
sahabat kecil kamu itu Raditya?”.
“ Iya, kenapa?”.
“ Apakah nama lengkapnya Raditya Mahadika?”.
Tanyaku lagi.
“ Bagaimana
kamu bisa tau?”.
“ Ya Tuhan, Raditya Mahadika adalah nama
lengkapku. Dan aku juga punya sahabat masa kecil perempuan yang sangat lucu
bernama Im Yoon Ah. Apakah... i itu...ka kamu?”.
“ Iya, aku Im Yoon Ah. Ja Jadi... jadi kamu
ternyata sahabat masa kecilku?”.
Menyadari kenyataan itu sungguh
membuatku tertegun tak percaya. Ternyata teman yang menjalani keseharian
bersamaku selama ini adalah si chubby Im Yoon Ah. Dia memang tidak mengenalkanku
dengan nama panggilan Yuna. Begitupun sebaliknya, aku juga tidak mengenalkan
namaku dengan panggilan Rama waktu itu. Jadi, wajar kalau diantara kita tidak
ada yang menyadari. Terlebih... masing-masing dari kita tentu sudah banyak yang
berubah. Apalagi dia yang sekarang terlihat semakin cantik. Mirip sekali dengan
personel girlband Korea SNSD Yoona.
“ Pantas saja aku selalu merasa nyama berada
didekat kamu. Kamu memang Raditya kecilku”. Ucap Yuna sebelum kemudian
memelukku dengan berderaian air mata. Ia menangis sesegukan dipelukanku seolah
aku adalah orang yang sudah lama dinantinya selama ini. Entah ini jodoh atau
bukan, yang jelas semuanya terjadi secara kebetulan.
“ Aku mohon kamu jangan pergi. Hiks hiks
hiks”. Ucapnya sembari masih menangis.
Jujur, aku pun ingin selamanya
bersama dia. Tapi bagaimanapun aku harus tetap kembali ke Indonesia. Aku sudah
berjanji pada diriku sendiri akan mengabdikan ilmuku untuk negeriku Indonesia.
“ Radit, kamu akan tetap tinggal disinikan?
Jawab Radit?”. Aku semakin merasakan dilema mendengar pertanyaan Yuna. Aku
cinta sama dia dan aku tidak ingin berpisah dengannya. Tapi disisi lain aku
punya tanggungjawab besar yang sudah menjadi janjiku.
“ Aku mohon jawab aku Radit”.
“ Jujur, aku juga tidak ingin berpisah dengan
kamu karena selama ini aku sebenarnya cinta sama kamu. Aku sangat cinta sama
kamu Yuna”.
“ Kalau begitu aku mohon kamu jangan pergi”.
“ Tapi... aku harus tetap kembali ke
Indonesia”. Aku pandangi wajah Yuna untuk meyakinkan kalau aku benar-benar
cinta padanya. Namun aku malah membuatnya semakin berkaca-kaca. Kemudian, tanpa
berkata apa-apa lagi dia berlari pergi diringi tangisnya. Sementara aku, bukannya
mengejar dia aku malah tertegun bingung dengan dilemaku yang tiba-tiba itu.
Dua bulan sejak pertemuan itu
aku tidak bertemu lagi dengan Yuna. Kita benar-benar loss contact. Handphonenya tidak pernah aktif lagi, bahkan aku
bertanya kepada teman-temannya pun tidak ada yang tau dia berada dimana.
Padahal tinggal menghitung hari aku akan kembali ke Indonesia. Teman-teman
Indonesiaku bahkan sampai berkali-kali memakiku karena kebodohanku
membiarkannya pergi.
“ Kenapa kamu gak mengejar dia waktu itu?
Hanya sebatas itu rasa cinta kamu?!”.
“ Oke aku tau aku salah. Aku sangat menyesal
karena kebodohanku itu”.
“ Lalu apa rencana kamu sekarang Ram?”. Tanya temanku yang lainnya.
“ Aku tidak akan pulang sebelum aku kembali menemukan Yuna”.
“ Apakah itu berarti kamu akan mengajak dia tinggal di Indonesia?”.
“ Entahlah, yang jelas aku harus menemukannya dulu”.
Berbagai
upaya aku lakukan untuk mencari Yuna. Aku tanyai semua teman-temannya, bahkan
aku datangi alamat rumahnya. Namun entah kemana penghuninya, rumah itu hanya
teronggok sepi. Tapi kemudian seorang ahjuma
tiba-tiba datang menghampiriku.
“ Jika kamu cinta, temui dia di Seoul Tower
malam ini”. Ucap ahjuma itu tanpa
menjelaskan apa-apa lagi. Tanpa pikir panjang malamnya aku pun langsung pergi ke
Seoul Tower.
Seoul Tower adalah sebuah icon
kota Seoul yang selalu menjadi tujuan wisata favorit masyarakat lokal dan
mancanegara yang tengah berkunjung ke Korea. Menara setinggi 236,7 meter ini
memiliki keunikan sendiri yang menjadi daya tarik utamanya. Diantaranya adalah
di Seoul Tower terdapat mitos yang dipopuler masyarakat setempat dan bahkan
para wisatawan. Mitos itu adalah gembok
cinta, yaitu jika sepasang kekasih menuliskan permohonan dan permohonan itu
ditaruh dengan gembok dipagar Seoul
Tower, maka permohonannya itu akan terkabul. Entah benar atau tidak yang jelas
mitos itu sangat populer. Alhasil, setip pengunjung yang datang kesini pasti
menaruh gembok permohonannya dipagar Seoul Tower. So, sudah tak terhitung lagi
banyaknya gembok yang terpasang dipagar itu.
Sesampainya diatas Seoul Tower
aku langsung mengarahkan pandanganku kesekeliling mencari seseorang.
Dan....seorang cewek tinggi bertubuh langsing dengan mantel tebal membalut
tubuhnya menarik perhatianku.
“ Aku
tau kamu kecewa dan marah sama aku. Tapi aku sangat kehilangan kamu Yuna”.
Ucapku kemudian mencoba mengawali.
“ kamu akhirnya datang juga Radit. Kamu
tau?, setiap hari aku menunggu kamu disini. Tapi kamu gak salah kok, aku yang
salah karena memang aku sengaja memutus kontak dari kamu”. Yuna membalikan
badan dan mulai menghadapku. Wajah cantiknya kini terlihat dari cerah dari
terakhir kali kita bertemu.
“ Aku gak berhak menahan kamu untuk pergi
Radit. Walaupun berat, tapi aku sekarang mengerti kok. Pulanglah, banyak yang
membutuhkan ilmu kamu di Indonesia”.
“ Tapi aku sebenarnya sangat berat
meninggalkan kamu Yuna. Aku sayang sama kamu”.
“ Aku tau. Oh ya, kamu masih ingat tentang
Gembok Cinta?. Kamu bersediakan menulis sesuatu untuk kita berdua sebelum kamu
pergi?”. Pinta Yuna sembari mengeluarkan sebuah gembok dan secarik kertas
berwarna kuning ditangannya.
“ Tentu saja”. Jawabku mantap.
Ditemani hembusan angin malam
dan kilauan bintang aku dan Yuna menulis sebuah harapan dipagar Seoul Tower
dan....klik, sebuah gembok untuk
mengunci harapan itupun terpasang sudah. Sebenarnya aku tidak mempercayai
mitos, tapi biarlah. Toh tidak ada salahnya menulis sebuah harapan.
“ Selamat jalan Radit. Semoga kita bisa
bertemu lagi suatu hari nanti”. Mata indah Yuna mulai berkaca-kaca. Dan air
matanya pun mengalir tak tertahankan lagi. Dia menangis dihadapanku dengan
wajah tersenyum. Ku hapus air matanya itu lalu aku peluk dia.
***
Ting tong!!! Suara bel dari pintu depan langsung
membuyarkan lamunanku. Bergegas aku pun
langsung bangkit dari ruang keluarga menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
“ Apa Kabar Radit?”. Tanya seorang cewek
begitu aku membuka pintu.
“ Yuna?!”.
THE END
Created By: Soneboy
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar