Selasa, 13 Januari 2015

Oleh-olehku Dari Korea



“ Ram, mana oleh-oleh dari Koreanya...?”. Tagih salah satu teman kantorku. Aku tahu, karena setiap kali ada yang liburan pasti ujung-ujungnya akan ditanya oleh-oleh. Dan aku memang sudah mempersiapkannya. Namun diluar segala pernak-pernik oleh-oleh dan lain sebagainya, aku justru mendapatkan satu pembelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang berharga itu aku dapat dari gadis Korea bernama Yuna.
***
Gadis itu bernama Yuna. Ya, dia adalah gadis asli Korea yang aku temui saat itu. Gadis yang berhasil membuatku terkesan bahkan disaat aku hanya beberapa hari ada dinegeri ginseng Korea. Pertemuan awalku dengan gadis berwajah manis dengan style rambut panjangnya yang khas itu adalah berawal dari Myeongdong Marcet. Saat dimana aku tengah iseng jalan-jalan mencari buah tangan untuk teman-temanku di Indonesia. Aku memang tengah liburan dinegara tempat asalnya girlband K-Pop yang mendunia SNSD atau Girls’ Generation itu.
            Pertemuanku dengan Yuna sebenarnya tidak sengaja. Saat itu aku sedang bermasalah dengan tawar menawar dengan seorang pedagang karena keterbatasan bahasa Koreaku dan terlebih kebanyakan orang Korea sulit berbahasa Inggris. Disaat tawar menawar yang alot datanglah Yuna. Dia berhasil membatalkan amarah ahjuma[1] yang hampir saja meledak kearahku karena kesal. Atau lebih tepatnya dia mengalihkan amarah si ahjuma pada dirinya.
“ Ya...omoeni..., kasih saja dia harga yang murah...dia ini turis..., siapa tau dengan kita memberi harga murah dia bisa mempromosikan wisata kita diluar”. Ucap Yuna langsung nyerocos. Si ahjuma yang sadar dirinya tengah didikte oleh gadis muda langsung tambah kesal dan balik memaki si gadis. Bahkan makiannya agak sedikit pedas.
“ Ya!!!, kamu pikir kamu siapa??! Urus saja badanmu itu dasar gadis kotor!. Disini saya yang jualan, kamu tidak usah ikut campur!”. Bentak si ahjuma dengan nada tinggi. Walaupun bahasa Koreaku masih minim, tapi sedikit banyak mengerti kalau si ahjuma tengah memaki gadis manis berambut lurus yang cantik itu.
“ Aish, amoeni...! tidak usah memakiku seperti itu. Aku sudah tau kok, aish”. Balas si gadis dengan nada kesal, lalu pergi sambil menggerutu.
Jujur, sejak kejadian itulah aku langsung tertarik dan penasaran dengannya. Penasaran karena seolah-olah dia bukan gadis yang asing dimata para ahjuma dikawasan perbelanjaan favorit wisatawan asing itu.
            Keesokan harinya aku kembali iseng jalan-jalan di Myeongdong. Sejujurnya aku masih penasaran dengan gadis berambut lurus kemarin. Dan... pucuk dicinta ulam pun tiba, hari itu pun aku kembali bertemu dengannya.
            Seperti yang aku sampaikan sebelumnya bahwa Myeongdong merupakan salah satu kawasan favorit belanja turis asing yang sangat luas. Berbagai macan jenis pertokoan berjejer disepanjang jalan disini. Mulai dari toko barang-barang bermerk sampai dengan pedagang kaki lima ada disini. Brand-brand seperti misalnya H&M, Mango, Adidas, Forever 21, Nike dan lain-lain akan memanjakan mata kita. Selain tentunya merk asli Korea untuk berbagai produk seperti baju, celana, sepatu termasuk juga pakaian dalam.
            Selain pakaian, merk-merk kosmetik seperti Skinfood, Faceshop, Missha, Tony Moly, Etude dan lain-lain juga berjejer rapih seolah tak mau kalah. Nah, disalah satu toko kosmetik itulah aku kembali melihat Yuna. Diam-diam aku memperhatikan dia dari kejauhan. Tidak ada yang aneh sebenarnya dari apa yang dikerjakan gadis itu. Ternyata dia memang sehari-harinya sibuk dikawasan Myeongdong sebagai salah satu pelayan toko kosmetik disana sebagai spg. Normal, terlebih dia memiliki penampilan yang sangat menawan. Tapi yang aku masih bingung kenapa beberapa ahjuma disana tega menjulukinya dengan sebutan gadis kotor. Seolah-olah dia seperti perempuan yang melakukan perkerjaan asusila. Padahalkan... menjadi spg pekerjaan yang cukup baik. Apakah hanya karena marah? Entahlah.
Seharian aku benar-benar terus mengikutinya, so far it’s normal. Namun menjelang malam kesibukannya mendadak langsung berubah. Dari kawasan Myeongdong dia beranjak ke kawasan lain yang tidak jauh dari sana. Aku langsung kaget, karena kawasan yang ia datangi setahuku adalah sebuah kawasan hiburan malam. Terlebih dia berpakaian agak seksi, tidak seperti saat di Myeongdong. Langkahku pun akhirnya terhenti, aku tidak mau mengikutinya sampai masuk tempat hiburan malam itu. Walapun aku tidak tau seperti apa didalamnya, namun yang pasti disana penuh dengan kebisingan, minuman, dan... tentu saja wanita seksi yang mungkin berpakaian sama seperti dia. Oke, aku pun memutuskan untuk menyudahi mencari tau tentangnya. Mungkin apa yang dikatakan para ahjuma di Myeongdong memang benar. Gak mungkin ada asap kalau tidak ada api.
***
Saat liburanku hanya tinggal sehari, aku kembali ke Myeongdong. Bukan untuk melihat Yuna tentu saja, tapi kali ini benar-benar untuk mencari buah tangan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Namun entah kenapa gadis manis yang sudah coba aku lupakan itu tiba-tiba muncul dihadapanku. Tapi kali ini, sepertinya dia yang membutuhkan bantuan. Lebih tepatnya bantuanku. Karena seseorang yang posisinya lebih dekat dengannya yang seharusnya bisa menolong adalah aku.
Tepat beberapa langkah didepanku Yuna dihadang oleh tiga orang pria berpakaian rapih namun terlihat sangat tidak ramah dengannya. Bahkan Yuna beberapa kali terlihat ditarik paksa oleh salah satu dari tiga pria itu. Awalnya aku ragu untuk menolongnya, karena mengetahui profesinya sebagai wanita malam, apa yang aku lihat didepanku itu mungkin hal biasa. Alih-alih malah aku yang akan kena masalah. Terlebih disini aku hanya sebagai wisatawan.
“ Lepasin! Aku gak mau ikut kalian dan kalian tidak berhak memaksaku!”. Yuna berusaha melepaskan tangan dari genggaman paksa pria-pria itu. Saat itu dia masih memakai uniform spg seperti yang aku lihat beberapa hari lalu.
“ Jangan melawan kalau tidak ingin kami bertindak kasar!”. Ancam salah satu dari ketiga pria itu kemudian.
            Merasa posisinya terpojok dan jelas dia kalah tenaga, Yuna pun hanya bisa menangis. Melihat itu aku sangat terpanggil. Aku benar-benar tidak bisa tinggal diam dan hanya melihat hal itu seolah biasa. Padahal jelas itu sebuah kesewenang-wenangan. Terlepas dari siapa  salah dan siapa benar, yang pasti gadis itu butuh bantuan.
“ Hei, bukankah memaksa seseorang itu bukan hal yang baik?. Let her go”. Pintaku kemudian pada tiga orang pria itu. Namun, merasa urusannya dicampuri, salah satu dari ketiganya menghampiriku dan menyuruhku jangan ikut campur.
“ Aku gak akan pergi tanpa gadis itu”. Ucapku lagi sambil menunjuk Yuna.
“ Memangnya kamu siapanya dia? Orang asing!”. Bentak mereka dan lagi-lagi tak memperdulikanku.
“ She is my girlfriend!”. Jawabku lagi dan itu berhasil kembali mengusik ketiganya.
“ Oh, ahhahaha... jangan membual didepan kami orang asing. Hajar dia!”. Perintah salah seorang dari ketiganya dan aku langsung diserang membabi buta. Pukulan demi pukulan langsung bersarang ditubuhku dan membuatku terhuyung. Aku tidak mau kalah dan lantas balas menyerang. Aku orang Indonesia, setidaknya aku menguasai dasar-dasar silat. Jadi, walaupun agak kewalahan pada akhirnya aku bisa melumpuhkan tiga orang pria itu sampai mereka pergi.
“ Terima kasih. Ternyata ada seseorang yang masih mau menolongku”. Ucap gadis cantik itu. Lalu ia menyodorkan tissue untukku. Akibat dikeroyok barusan, pelipis dan bibirku memang sedikit berdarah.
“ Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih”. Kali ini dia bahkan membungkuk sembilan puluh derajat Seolah-olah aku telah memberikan pertolongan yang sangat besar. Aku pun buru-buru menyuruhnya berdiri.
 “ Tidak usah berlebihan. Aku kebetulan lewat sini dan sudah seharusnya aku menolong”.
“ Tapi aku tetap berterima kasih. Namaku Yuna”. Ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan mengajakku berkenalan. Dari situlah aku tau kalau namanya adalah Yuna. Nama yang cantik seperti wajahnya.
 “Aku Rama, aku turis dari Indonesia. Mm..., kalau kamu masih ingat, aku turis yang beberapa hari lalu berurusan dengan salah satu ahjuma di Myeongdong saat alot tawar menawar barang dan saat itu kamu datang membantu”. Aku mencoba mengingatkan.
“ Oh, betulkah? Oh jadi kamu turis yang waktu itu ya. Ah kebetulan sekali”.
“ Hahaha iya memang kebetulan. Mm...oh ya, kalau aku boleh tau, kenapa para ahjuma disana seolah-olah tidak menyukaimu?. Mm..maksudku, kok waktu itu mereka sampai tega memaki kamu?”. Aku mencoba menggali informasi langsung dari orangnya. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin mengetahuinya secara langsung. Bukan karena  praduga atau spekulasi.
“ Ah itu, mereka tidak menyukaiku karena tau aku pekerja hiburan malam. Aku tidak menyalahkan mereka atau siapapun yang tidak menyukaiku. Karena memang mereka tidak tau yang sebenarnya. Aku hanya gadis biasa dari keluarga sederhana, aku tinggal bersama adik laki-laki yang masih kecil. Kami hanya tinggal berdua karena kami yatim piatu. Oleh karena itulah aku bekerja sebagai spg di Myeongdong. Namun itu bukanlah satu-satunya pekerjaanku. Aku juga menjadi penyanyi di club malam. Tapi hanya sebagai penyanyi, tidak lebih. Walaupun penampilanku memang menyesuaikan suasana disana. Aku bernyanyi disitu karena bayarannya lumayan untuk kebutuhanku sehari-hari. Bahkan aku bisa menabung dari honorku itu. Ahjuma yang mengetahui aku kerja diclub malam langsung membenciku, awalnya hanya beberapa orang. Tapi kelamaan semuanya tau. Ah tapi sudahlah, bagiku itu hal kecil. Tak masalah bagiku walau orang menilaiku jelek, asalkan kenyataanya aku tidak melakukan hal yang jelek”. Sambil berjalan menyusuri Mall masih dikawasan Myeongdong Yuna akhirnya bercerita panjang lebar. Dari caranya bercerita aku tau kalau dia gadis baik-baik.
“ Mm... sebelumnya maaf kalau aku banyak ikut campur. Tapi... kalau boleh tau kenapa kamu sampai dipaksa oleh komplotan tadi?”. Tanyaku lagi.
“ Mereka adalah anak buah dari salah satu kelompok geng dikota ini. Selama aku menyanyi diclub itu, ternyata ada bos yang tertarik denganku dan mengajakku kencan. Tentu aku menolaknya, karena setiap kencan yang berawal dari club selalu berujung...,ah kamu tau lah yang aku maksud. Tapi sepertinya penolakanku menyinggung bos itu. Sehingga anak buahnya selalu mengikuti keseharianku dan selalu berusaha memaksaku. Dan tadi itu adalah kesekian kalinya mereka berusaha memaksaku”.
“ Bagaimana kalau mereka nanti datang menemuimu lagi?”. Tiba-tiba aku khawatir padanya.
“ Semoga saja tidak, toh aku juga berencana pindah keluar kota. Aku masih punya teman yang mau menampungku di Ansan”.
“ Oh syukurlah kalau begitu. Oh ya, jadi kamu berbakat menyanyi? Lalu kenapa tidak mengisi di caffe-caffe saja? Bukankah itu lebih aman, atau... mencoba peruntungan sebagai artis mungkin. Apalagi... kamukan cantik”. Setelah mendengar ceritanya, empatiku langsung muncul. Ternyata aku memang terlalu cepat menilai seseorang.
“ Ya, aku memang terlalu ceroboh untuk memasuki dunia hiburan malam. tidak aku pungkiri, aku tergiur oleh honornya yang lebih tinggi dan aku menyesal. Untuk dunia artis, ah tidak, aku ingin bisa terus bersama dengan adikku. Menjadi artis hanya akan menghabiskan waktuku. Walaupun mungkin aku akan punya segalanya, namun sejatinya aku tidak punya kebebasan”. Aku terkesan dengan penjelasan dan cerita Yuna. Gadis cantik itu benar-benar telah mengecohku. Aku sudah salah menilainya.
“ Oh... jadi begitu. Ya, setiap orang memang mempunyai keputusan akan jalan hidupnya masing-masing. Tapi kalau aku boleh saran..., kamu pantas mendapatkan sesuatu yang lebih atas apa yang kamu miliki. Jadi, aku harap kamu bisa menemukan apa yang terbaik untuk kamu. Dan tetaplah berhati-hati”.
“ Terima kasih Rama. Aku senang bertemu denganmu. Orang Indonesia ternyata memang baik-baik.”. Ucap Yuna sebelum berpisah denganku dan aku tak akan pernah bisa melupakan senyum manisnya itu.
***
“ Ram terus lo sendiri dapet oleh-oleh apa dari Korea? Katanya lo dapet oleh-oleh yang gak terlupakan, apaan sih?”.
“ Kalian mau tau, apa mau tau banget?”. Ledekku pada teman-teman kantor yang wajahnya pada penasaran.
“ Tinggal tunjukin aja repot amat sih Ram”. Protes salah satu diantara mereka.
“ Oleh-oleh yang berharga dari sana adalah, ‘Dont jadge the book bye the cover. Even, every good book need a cover’.
Mendengar jawabanku semua teman-temanku melohok kebingungan. Sementara aku hanya berlalu pergi dengan santai sambil tersenyum membayangkan Yuna jauh dinegeri ginseng sana. Ya, karena dia salah satu yang mengingatkanku bahwa kita tidak berhak menghakimi orang lain terlebih jika kita belum mengenalnya. Just thingking positively.

The End
            Created by: Soneboy


[1] Sebutan ibu-ibu Korea

Tidak ada komentar:

Posting Komentar