Jumat, 09 Januari 2015

The Ice Princess




Pagi itu ruangan kelas Jungsis High School disibukan dengan kegiatan belajar seperti biasanya. Siswa siswi yang notabene berasal dari keluarga berada itu sibuk dengan bukunya sambil mendengarkan penjelasan dari seorang guru didepan kelas. Suasana belajar itu terasa sangat kondusif sampai kemudian muncul seorang siswi yang datang terlambat.
“ Sorry i’m late”. Ucap siswi yang datang telat itu dengan santai. Bahkan tanpa menyapa sang guru ia berlalu begitu saja menuju tempat duduknya. Namun seolah seperti hal yang sudah biasa, kelas pun kembali dengan kesibukan semula. Hanya satu orang cowok yang menatap sinis kearah siswi yang terlambat itu.
“ Hei miss late!, kamu pikir ini sekolah keluargamu. Hampir setiap hari kamu datang terlambat dan sepertinya kamu tidak pernah mau menghargai peraturan disekolah ini”. Bagai petir disiang bolong siswa itu lantas berteriak kearah siswi yang disebutnya miss late itu. Seketika suasana kelas pun kembali tegang dan hening. Bahkan kehadiran guru seolah tak bisa meredam atau mencairkan suasana disana.
“ Aish, sekolah ini memang milik keluargaku. Atau... kamu memang pura-pura lupa, Danish?. Dan... namaku Krystal, bukan miss late. Karena aku mau datang telat atau tidak itu bukan urusanmu. Do you understand?”. Siswi bernama Krystal itu pun balas menatap sinis kearah cowok yang bernama Danish itu. Danish memang satu-satunya siswa yang selama ini berani mengusiknya. Padahal popularitas Krystal disekolah itu sudah bagaikan selebriti. Jangankan sesama siswa atau siswi, para guru dan pengurus sekolah sekalipun tidak ada yang berani mengusiknya.
            Seperti apa yang dikatakannya, Jungsis High School adalah sekolah swasta elit yang mayoritas saham kepemilikannya memang ada ditangan keluarga Krystal. Dimana notabene ia berasal dari keluarga pebisnis yang sangat kaya. Keluarganya memiliki jaringan bisnis yang luas diberbagai bidang termasuk salah satunya adalah sekolah-sekolah elit di Korea.
            Namun Krystal saat ini hanya tinggal bersama dengan kakak perempuannya. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Ibundanya meninggal saat keduanya masih kecil dan sang ayah mengalami sebuah kecelakaan mobil beberapa tahun lalu. Sehingga jaringan bisnis keluarga tersebut kini dipegang oleh sang kakak yang bernama Jessica sebagai President Director.
 “ Wow, masih merasa seperti princess hah? Hahaha...”. Tak mau kalau Danish malah balas menertawakan. Sementara seisi kelas yang lain justru bungkam.
“ Sepertinya hanya kamu warga sekolah ini yang tidak pernah mengerti. Aku bisa mengeluarkanmu dari sekolah ini kapan saja aku mau”. Ancam Krystal.
“ Oh ya? Bukankah yang punya kuasa atas sekolah ini adalah kakakmu, Jessica?. Hahaha... kamu hanya berdiri dibawah bayang-bayang kakakmu Krys. You are just nothing without her”.
            Brak!!,  Krystal membanting tasnya lalu berlalu pergi meninggalkan kelas. Nampaknya gadis cantik berwajah Korea-Amerika itu sudah sangat kesal. Biasanya ia selalu beradu mulut dan tak pernah mau kalah sampai pihak berwenang disekolah melerai keduanya. Namun kali ini ia langsung pergi begitu saja.
 “ Hiks hiks... Jessica Jessica Jessica, kenapa selalu harus Jessica...?!!!!”. Teriak Krystal sambil sesekali menyeka air matanya. Ia bahkan tak sadar kalau kecepatan Porche 911 merah yang dikendarainya hampir menyentuh 150 Km/jam.
            Jessica Jung sang kakak, selain statusnya sebagai President Director ia juga merupakan seorang fashionista terkenal di Korea. Popularitasnya bahkan bisa menyaingi selebritas dinegeri ginseng itu. Jessica memang sangat cantik jelita, karena sama halnya Krystal ia pun berdarah blaster Korea-Amerika, yang membedakan dirinya dengan Krystal adalah pembawaanya. Jessica yang terpaut enam tahun lebih tua jelas tentu lebih bersikap dewasa ketimbang Krystal. Namun, segala kelebihan sang kakak itulah justru yang membuat Krystal seolah-olah selalu berada dibawah bayang-bayangnya.
***
            Keesokan harinya di Jungsis High School Krystal tidak datang terlambat. Dia memarkirkan Porche 911 merah miliknya beberapa menit sebelum jam masuk sekolah. Ya seperti itulah tingkahnya, ia bisa datang jam berapapun dan pergi sesukanya disekolah itu.
            Namun tingkahnya yang bagaikan princess itu hanya dilakukan saat ia tidak dalam pengawasan kakaknya. Jika berada didekat Jessica ia seolah langsung kehilangan powernya.
“ Aku sedang tidak ingin berantem denganmu Danish. Jangan membuatku kesal”. Ucap Krystal datar sambil duduk dibangkunya. Sementara sang rival Danish masih cuek dengan buku yang sedang dibacanya.
“ Aku juga sedang tidak ingin cekcok denganmu, miss late. Apa kamu tidak lihat aku sedang baca buku?”. Danish memang tengah asik dengan novel favoritnya.
“ Aku tidak telat hari ini!, so please dont call me like that”. Protes Krystal.
“ Hahaha, kamu hanya satu hari dari satu minggu datang tidak telat. So, kamu masih sangat pantas dijuluki miss late”.
            Mendengar sindiran Danish emosi Krystal kembali tersulut. Tanpa basa basi ia pun melempar pulpennya dan tepat mengenai pelipis mata Danish hingga berdarah. Namun karena emosi, Krystal tak merasa khawatir sedikitpun telah melukai rivalnya itu.
“ I told you!, dont make me mad”. Ucap Krystal tanpa menyesal sedikitpun. Namun Danish tetap tenang diposisinya dan hanya menyeka darah dipelipis matanya.
“ Krystal, what are you doing?”. Tiba-tiba suara seseorang memecah suasana cheos dikelas itu. Suara yang sangat dikenal oleh Krystal. Suara yang langsung membuatnya tertegun dan mematung seketika.
“ U un unnie?”. Krystal langsung gugup bukan kepalang melihat tiba-tiba Jessica sudah berada dibelakangnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sang kakak bisa berada disitu. Karena setahunya Jessica masih ada urusan bisnis diluar kota.
“ Ka kakak nga ngapain disini?”.
“ Kamu belum menjawab pertanyaan kakak. Apa yang kamu lakukan barusan?”. Dengan tenang Jessica berjalan mendekati Danish dan mengambil pulpen Krystal yang barusan dilempar.
“ Ini milik mu kan?”. Tanya Jessica kemudian. Nada bicaranya tetap tenang seperti biasanya.
“ Maafin aku kak, aku gak bermaksud. Aku hanya kesal karena dia mengejekku”. Krystal mencoba membela diri.
“ Apa dia mengejekmu dengan julukan miss late?”.
“ Ba bagaimana kakak bisa tau?”. Krystal langsung bingung dengan apa yang dikatakan kakaknya.
“ Kakak bahkan tau kalau kamu kemarin bolos dan tidak pulang ke rumah. Itulah mengapa kakak memutuskan untuk langsung kembali ke Seoul dan menemui mu disekolah. Kenapa Krystal?”.
“ Apa kakak memata-mataiku selama ini?. Ja jadi, memang benar kakak tidak pernah percaya padaku selama ini? Hiks”. Suara Krystal bergetar dan tak terasa air matanya langsung jatuh.
“ Aku bukan anak kecil lagi kak?! Hiks hiks”. Tangis Krystal semakin meledak dan itu membuat bingung teman-teman seisi kelas termasuk Danish. Ini pertama kalinya mereka melihat sang ice princess menangis.
“ Aku kakakmu dan sudah seharusnya kakak tau apa yang kamu lakukan”.
“ Bukankah kakak selalu sibuk dengan urusan perusahaan? Kakak selalu mendapatkan hak spesial dari ayah, kakak selalu memikirkan diri kakak sendiri! Hiks hiks hiks”. Dengan tangis meledak Krstal pergi keluar dan lari menuju parkiran. Lalu tak berapa lama kemudian dia melaju deras keluar dari Jungsis High School dengan Porche 911 sportnya.
Jessica kemudian berusaha mengejar sang adik dengan BMW 320i putih miliknya. Ia   bahkan meninggalkan supirnya begitu saja disekolah. Kejar kejaran antara kakak dan adik pun tak terelakan. Walaupun tidak seperti kejar-kejaran diadegan film action, tapi keduanya cukup gesit melintasi jalanan kota Seoul. Namun sepertinya Jessica kalah cepat oleh mobil sport milik adiknya. Beberapa kali Krystal berhasil menjauh meninggalkan Jessica. Mengetahui adiknya semakin  kencang, ia pun menambah kecepatan laju mobilnya sampai mendapatkan kesempatan menyalip. Namun tiba-tiba... Jdaar..!!!! BMW 320i Jessica berbenturan keras dengan sebuah minibus dari arah berlawanan saat berusaha menyalip. Beruntung minibus tersebut melaju tidak terlalu kencang. Namun mobil Jessica tetap terpental keluar jalan seketika.
“ Oh no!”. Mengetahui mobik kakaknya kecelakaan Krysal lansung berhenti dan berlari menghampirinya. Dilokasi kejadian Jessica sedang berusaha dievakuasi dari dalam mobil oleh beberapa orang yang kebetulan berada disana. Jessica mengalami pendarahan luar biasa akibat kecelakaan itu. Beruntung dia masih bernafas walaupun kondisinya sangat kritis.
            Sementara sang kakak dilarikan ke Rumah Sakit terdekat, Krystal masih mematung tak percaya melihat mobil sang kakak rusak parah dihadapannya. Air matanya pun tak henti mengalir sedari tadi. Bibirnya bergetar menahan rasa bersalah yang teramat sangat.
***
            Kejadian yang menimpa sang kakak benar-benar membuat Krystal sangat menyesal. Dua hari sejak kecelakaan itu ia belum bisa memaafkan dirinya. Terlebih sampai saat ini Jessica masih belum sadarkan diri. Selain itu hal ini juga kembali mengingatkannya dengan kejadian beberapa tahun lalu saat sebuah kecelakaan mobil merenggut nyawa ayahnya. Tragisnya lagi, kecelakaan terjadi saat dimana sang ayah berusaha mencari Krystal yang waktu itu sengaja kabur dari rumah.
“ Hiks hiks, kenapa kejadian seperti ini selalu disebabkan olehku, kenapa...? hiks”.
“ Perlu tissue?”. Ucap Danish yang muncul tiba-tiba dibelakang Krystal. Sambil tersenyum ia menyodorkan tissue kepada Krystal. Wajah cantiknya memang terlihat kacau akibat terlalu banyak menangis.
“ Makasih, kamu masih mau menengokku. Padahal selama ini aku selalu memusuhimu”. Kali ini Krystal benar-benar berkata tulus. Dia sangat berterima kasih pada Danish yang telah menjenguk sang kakak di Rumah Sakit. Krystal merasa sangat tersentuh.
“ Sudahlah, kamu terlihat jelek kalau menangis terus. Mana ice princess Krystal yang selama ini selalu cool?, apa esnya sudah mencair?”. Ledek Danish sambil tersenyum kearah adik Jessica tersebut.
“ Aish”. Dengus Krystal sambil melempar tissue bekasnya kearah Danish. Tentu saja kali ini ia menghindar.
            Kehadiran Danish ternyata bisa menghibur suasana hati Krystal. Sang ice princess tidak menyangkal akan hal itu. Ia sadar dibalik tingkahnya yang selama ini seolah selalu menentangnya, ternyata ia perhatian kepadanya.
“ Ka kalian disini?”. Suara parau Jessica memecah candaan Krystal dan Danish. Keduanya pun tertegun melihat Jessica sudah sadarkan diri.
“ U unnie?”. Krystalpun serta merta langsung memeluk sang kakak dan menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan semua permintaan maaf dan rasa menyesalnya dipelukan sang kakak. Sementara Danish hanya tersenyum melihat pemandangan itu.
“ Kakak tidak pernah menyalahkanmu”. Ucap Jessica sambil mengelus lembut kepala Jessica dipelukannya.
“ Aku sayang sama kakak”.
“ Kakak juga sayang sama kamu”.
“ Krys, sebaiknya kita menunggu diluar. Biarkan kakakmu diperiksa oleh dokter dulu”. Ucap Danish kemudian.
“ Ia, kalian berdua pergilah, gak usah terlalu mengkhawatirkan kakak. Pergilah”.
“ Kita pasti nanti kesini lagi kak”.
“ Iya”.
            Untuk menghibur Krystal, Danish pun mengajaknya pergi jalan-jalan. Kali ini Danish yang membawa Porche 911 milik Krystal.
“ Kita mau kemana?”. Tanya Krystal kemudian. Karena sang kakak sudah siuman, wajah cantik Krystal pun kini kembali berpendar.
“ Kamu ternyata sangat cantik kalau tersenyum. Coba setiap hari kamu tersenyum, mungkin aku gak sampai harus mengusilimu”.
“ Kamu ngomong apa sih?”.
“ Aku tuh suka sama kamu Krys”.
“ What?!, what did you say?”. Krystal pura-pura tidak mendengar.
“ Aku suka sama kamu Krystal Jung... “. Ulang Danish dan kali ini ia menatap dalam kearah Krystal. Ia seolah tak memperdulikan jalanan didepannya.
“ Danish lihat kedepan...! aish...”. Teriak Krystal mengingatkan.
“ Hahahaha.....habis kamu pura-pura gak denger”.
“ Iya iya..., i like you too”. Jawab Krystal kemudian dan wajah cantiknya langsung merah merona. Ia tak bisa menyembunyikan rasa malunya itu dari Danish yang langsung melihatnya ternyum jahil.
“ Oke you win, dont look at me like that”.
“ Hahaha....oke oke my ice princess”. Danish senang, karena dia sudah bisa melihat ice princessnya tertawa hangat.
Hm...memang terkadang kita harus menangis dulu untuk kemudian bisa menyadari dan kembali tersenyum.

THE END
Created by: Soneboy




Tidak ada komentar:

Posting Komentar