Tiffany, The Eye Smile Princess
Malam ini, gegap gempita dan sorak sorai dari sepuluh
ribu orang lebih penonton membahana di Singapore Indoor Stadium. Memeriahkan
sebuah acara penganugrahan musik paling prestisius di asia, yakni Mnet Asian
Music Award 2011. Mereka rela berteriak dan berdesak-desakan demi menyaksikan
artis idolanya menerima penghargaan.
Sementara itu, disalah satu barisan kursi khusus para
penerima award, terlihat seorang artis tengah menangis terharu menyaksikan
atmosfer yang luar biasa itu. Dia adalah Tiffany, salah satu member dari girlband
Girls’ Generation.
“ I don’t beliave it, i don’t beliave it”. Ucap Tiffany sambil
mengusap matanya yang masih saja berkaca-kaca. Ia masih merasa kalau suasana
malam ini adalah mimpi.
***
Sekitar delapan tahun yang lalu, seorang gadis remaja
berusia lima belas tahun bernama Stephanie Hwang telah memikat perhatian para
pencari bakat SM starlight system 2004. Sebuah agensi besar asal korea yang
tengah mencari bibit-bibit berbakat untuk dilatih menjadi superstar dunia. Saat
itu Tiffany, seperti itulah biasa gadis itu dipanggil tengah mengikuti audisi
yang kebetulan digelar agensi itu di Los Angeles Amerika Serikat. Dan berkat
Bakat menari dan suaranya yang khas akhirnya tiffany pun diterima sebagai siswi
pelatihan SM starlight.
“ Sayang, siapa nama
kamu?”. Tanya sang juri audisi begitu Tiffany selesai bernyanyi.
“ My name is Tiffany,
fany fany Tiffany”. Jawab gadis itu dengan aksen amerikanya yang menggemaskan. Siapapun
yang mendengarnya pasti akan tersenyum kagum tak terkecuali para juri itu.
“ Selamat ya, kamu kami
terima sebagai siswi trainee SM yang nantinya menjalani pelatihan di Korea.
Dengan bakat briliant kamu ini, kelak kamu akan menjadi superstar yang dikagumi
banyak orang diseluruh dunia”.
“ Benarkah?”. Tanya
Tiffany tak percaya.
“ Ya, tentu saja.
Asalkan kamu yakin dan terus berusaha memberikan yang terbaik”. Jawab juri
meyakinkan.
“ Aku pasti akan
berusaha memberikan yang terbaik. Terima kasih, terima kasih banyak”. Ucap
Tiffany sambil membungkuk berkali-kali saking senangnya.
Jalan
untuk mewujudkan impian sebagai penyanyi kini terbuka sudah. Dalam hati, Tiffany
pun berjanji akan berjuang dan berusaha keras untuk mencapai semuanya itu. Ia
tidak akan mensia-siakan kesempatan yang sudah ada dihadapannya.
Namun, setenang apapun sebuah lautan pasti akan ada
gelombang pasangnya juga. Seperti itu pulalah yang juga dialami oleh Tiffany.
Keberhasilannya lolos audisi SM starlight ternyata tidak direstui oleh ayahnya.
Sang ayah sejak awal memang tidak ingin anak bungsunya itu menjadi seorang
penyanyi. Beliau menginginkan Tiffany bisa mengikuti jejak kakak-kakaknya yang
memang sudah lebih dulu menjadi penerus bisnis keluarga. Bukan menjadi artis,
penyanyi, atau apalah itu. Apalagi begitu beliau tau kalau Tiffany nantinya
diharuskan untuk pindah ke Korea.Walaupun itu negeri asal ibunda Tiffany, sang
ayah tetap saja tidak setuju.
“ Ayah tidak setuju
kamu menjadi penyanyi. Apalagi kamu sampai harus pindah ke Korea”.
“ Tapi ayah, menjadi
penyanyi adalah impian aku. Tolong ayah, ijinkan aku mengikuti pelatihan di
Korea”. Rengek Tiffany. Ia bahkan sampai berlutut dan menangis memohon ijin
pada orang tua satu-satunya itu. Ya, satu-satunya karena sang ibunda sudah
meninggal dua tahun yang lalu.
“ Tidak, ayah tetap
tidak setuju”.
“ Ayah Fany mohon....”.
“ Tidak”.
***
Hari demi hari Tiffany lewati dengan kebingungan dan
kebimbangan. Entah berapa banyak air mata yang sudah ditumpahkannya demi
mendapatkan ijin sang ayah. Namun ijin itu belum juga diperolehnya. Padahal
keputusan bersedia atau tidak pindah ke Korea harus secepatnya disampaikan
kepihak SM starlight. Karena jika sampai batas waktu Tiffany belum juga
memutuskan, berarti itu sama saja seperti mengundurkan diri. Hal itu tentu saja
tidak boleh terjadi. Apalagi selama ini diam-diam Tiffany sudah berlatih keras
demi lolos audisi itu. Kini ia sudah dapat menyisihkan ribuan peserta lain,
maka sungguh hal yang disayangkan jika ia harus mengundurkan diri.
Memang berat jika kita dihadapkan pada dua pilihan
yang sama pentingnya. Satu sisi Tiffany ingin sekali meraih mimpinya. Namun
disisi lain, ia juga tidak mau mengecewakan ayahnya. Orang tua yang sudah
mendidik dan merawatnya hingga menjadi remaja putri yang cantik seperti
sekarang ini.
“ Mom...., i’m really need your advice now. Tiffany
bingung Mom.., apa yang harus Fany lakukan sekarang?”. Keluh Tiffany dihadapan
foto almarhum ibundanya. Ia tidak tau harus minta dukungan siapa lagi saat ini.
“ Fany, you still have us. We are your brother and your sister. We will
always supporting you anything”. Ditengah-tengah curhatnya dihadapan foto
sang bunda, tiba-tiba Tiffany dikagetkan oleh kehadiran dua orang saudaranya, Michelle
dan Leo.
“ Kakak?”. Ucap Tiffany
begitu menyadari siapa yang datang.
“ Iya Fany, kita pasti
mendukung kamu”. Tambah sang kakak perempuan.
“ Tapi ayah....”.
“ Masalah ayah biar
nanti kakak yang bicara, yang penting sekarang kamu tidak boleh menyerah dan
berputus asa. Kamu harus terus bersemangat dengan mimpi kamu, oke”.
“ Kakak....”. Senyum
Tiffany yang beberapa hari ini hilang mulai merona kembali . Dirinya ternyata
masih punya seseorang yang mendukungnya. Dan itu adalah kekuatan yang luar
biasa.
Satu
hari menjelang batas akhir keputusan, Tiffany sudah membulatkan tekadnya. Ia
pun mulai membereskan dan mengemas segala keperluan yang hendak dibawanya.
Apapun keputusan ayahnya nanti ketika ia ijin untuk terakhir kalinya, ia tetap
akan berangkat ke Korea.
Sedang asik-asiknya Tiffany membereskan pakaian, tiba-tiba
terdengar suara orang berteriak dilantai bawah. Suara itu berasal dari ruang
keluarga. Tiffany menghentikan kegiatannya dan langsung bergegas turun. Sesampainya
disana, ia mendapati kakak dan ayahnya sedang bertengkar hebat. Ia tau betul apa
yang menjadi bahan perdebatan antara kakak dan ayahnya. Itu pasti berkaitan
dengan dirinya.
“ Kamu gak usah ikut
campur dengan keputusan ayah!”.
“ Tapi Fany berhak punya
mimpi yah dan ayah tidak punya hak untuk menghalanginya”. Nada bicara Leo mulai
meninggi.
“ Tau apa kamu tentang
mimpi?! Jangan berkata tentang mimpi dihadapan ayah!”. Perdebatan antara anak
dan orang tua itu bagaikan dua ujung magnet yang saling tolak menolak. Tiffany
benar-benar bingung menyaksikan situasi yang pertama kali dilihatnya itu.
“ Ayah...tolong ayah
tenang dulu”. Michelle kakak perempuan Tiffany mencoba menenangkan emosi
ayahnya.
“ Jangan ikut campur
Michelle”.
“ Tapi apa yang
dikatakan Leo benar ayah. Tiffany berhak punya mimpi dan juga mewujudkan
mimpinya. Ayah pasti tau kalau selama ini anak bungsu ayah itu sangat berbakat
dalam hal menyanyi. Ayah ingakan? Dia pernah membanggakan ayah waktu kita
meresmikan cabang baru bisnis kita, dia menyanyi dengan begitu baik dihadapan
tamu dan kolega ayah. Dan mereka semua bertepuk tangan untuk bakat luar biasa
putri ayah, Tiffany. Ayah ingatkan?”. Michelle menjelaskan tanpa menyadari
kalau matanya sampai berkaca-kaca. Dan penjelasannya itu ternyata cukup membuat
ayahnya mereda. Beliau sempat terdiam beberapa saat sampai kemudian berlalu
pergi meninggalkan Leo dan Michelle yang masih berdiri terpaku.
Kejadian siang hari yang tiba-tiba tadi sungguh
membuat suasana rumah tidak nyaman. Terlebih bagi Tiffany. Sang ayah ternyata
benar-benar tidak merestuinya untuk menjadi seorang penyanyi. Bahkan bujukan
sang kakak pun tidak mampu meluluhkan keputusannya.
Besok adalah hari dimana Tiffany harus memberikan
keputusan. Apakah akan tetap nekad ke Korea meski tanpa restu sang ayah? Atau
kah mengorbankan impiannya dan tetap tinggal di Amerika. Ia harus memutuskannya
satu dari dua pilihan itu malam ini.
“ Fany”. Ucap sang ayah
membuyarkan lamunan Tiffany.
“ A ayah?”. Menyadari
kehadiran sang ayah yang tiba-tiba itu, Tiffany langsung menghapus air matanya.
“ Kamu pasti merasa
kalau ayah adalah orang paling jahat didunia. Orang tua yang tega membunuh
impian dan harapan anaknya sendiri”.
“ Tidak ayah, Fany sama
sekali tidak berfikir seperti itu. Walau bagaimanapun ayah tetap orang tua yang
Tiffany cintai”.
“ Apakah kamu
benar-benar ingin menjadi penyanyi sayang?”. Tanya sang ayah kemudian.
Tatapannya kini mulai sendu dan penuh rasa cinta.
“ Menjadi penyanyi
adalah impian Tiffany sejak kecil ayah”. Jawab Tiffany, dan lagi-lagi ia tak
kuasa menahan air matanya.
“ Kalau begitu pergilah
sayang. Raihlah mimpi dan cita-cita kamu itu. Buktikan sama ayah kalau kamu
bisa menjadi penyanyi yang dicintai banyak orang”.
“ A ayah, a apakah ayah
sudah mengijinkan Tiffany?”.
“ Iya sayang”.
“ Terima kasih
ayah...”. Saking senangnya Tiffany kemudian langsung memeluk sang ayah. Ia
tumpahkan semua rasa senangnya dipelukan orang tua tercinta yang tinggal
satu-satunya itu.
***
Minggu pagi waktu setempat, untuk pertama kalinya
Tiffany menginjakan kaki di negeri ginseng Korea. Tepatnya di International
Incheon Airport. Minggu pagi yang akan menjadi awal sejarah kehidupan barunya.
“ Kamu siap menjadi
bagian dari keluarga SMTOWN?”. Tanya salah seorang crew pencari bakat
membuyarkan lamunan Tiffany.
“ Oh, i iya tentu
saja”. Jawab Tiffany bersemangat.
“ Oke, tidak lama lagi
kamu akan bertemu dengan saudara-saudara baru kamu. Mereka sama seperti kamu,
siswa yang terpilih dari berbagai audisi”.
“ Benarkah?”.
“ Iya, mereka semua
memiliki bakat yang hebat sama seperti kamu. Dan kalian nantinya akan menjadi
satu kesatuan yang luar biasa dalam sebuah grup. Do you axcaited?”.
“ Yea, absolutly”.
Tiffany sudah membayangkan perjalanan panjang yang
akan dihadapinya nanti. Namun ia sudah membulatkan tekad sejak awal. Terlebih,
ia sudah berjanji pada ayahnya untuk memberikan sesuatu yang terbaik. Ia berjanji
akan tetap tegar, bersemangat, dan pantang menyerah walaupun tinggal di Korea
dan jauh dari keluarga.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama menyusuri kota
Seoul, akhirnya rombongan tiba di kantor pusat SM Entertainment. Kantor pusat
agensi yang nantinya akan menaungi Tiffany. Disinilah awal Tiffany bertemu
dengan Jessica, Taeyeon, Yuri, Yoona, Sunny, Seohyun, Sooyoung, dan Hyoyeon. Para
remaja putri berbakat yang akan menjadi keluarga baru Tiffany. Keluarga yang
akan berjuang bersamanya dalam menempuh pelatihan panjang bertahun-tahun.
***
Acara penganugrahan Mnet Asian Music Award 2011 hampir
menuju puncaknya. Kini tinggal satu kategori lagi yang akan dibacakan. Dan
kategori terakhir ini merupakan salah satu dari tiga penghargaan utama Mnet
Asian Music Award tahun ini. Yakni Penghargaan untuk kategori Artis of the Year. Sebuah kategori untuk
mengapresiasi eksistensi suatu artis sepanjang tahun.
“ Mnet Asian Music
Award 2011 kini sudah mencapai puncaknya. Kini saatnya untuk penganugrahan Artis of the Year. Dan idola yang
memenangkan kategori tersebut adalah....Girls’.....Generation....!!!”.
Ucapan artis pembaca
kategori itu langsung disambut histeria oleh puluhan ribu fans yang memenuhi
Singapore Indoor Stadium. Terdengar dari kejauhan mereka semua meneriakan SNSD, SNSD, SNSD, SNSD. Sungguh atmosfer
yang luar biasa.
“ Fany!, ayo kita naik
ke podium”. Ajak Taeyeon sang leader Girls Generation. Ia terpaksa menepuk bahu
Tiffany karena sedari tadi terlihat melamun.
“ Dari tadi kamu
melamun terus, ada sesuatu yang kamu pikirkan?”. Tanya Taeyeon khawatir.
“ Oh tidak, tidak
apa-apa. Aku hanya teringat masa-masa panjang beberapa tahun yang lalu. Aku
juga teringat ayah, oleh karena itulah sedari tadi aku melamun. Aku merasa
malam ini seperti mimpi. Taeyeon, apakah ini kenyataan?”.
“ This
is a real Fany. Selama ini kamu sudah berjuang keras. Kamu layak
mendapatkan ini semua”. Jawab Taeyeon sambil mengusap air mata Tiffany. Ia pun
kemudian menggandengnya naik ke podium menyusul rekan-rekannya yang lain.
Malam puncak penganugrahan musik asia itu Tiffany
dedikasikan untuk ayahnya tercinta. Award yang ia genggam saat ini adalah
hadiah untuk beliau atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya selama ini.
“ Terima kasih, terima kasih banyak untuk semuanya. Terima kasih
untuk kepercayaan yang telah kalian berikan kepada kami selama ini. Dan untuk
ayahku tercinta di LA, terima kasih ayah. This
is for you Dad...., i’m rally really love you. Forever”.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar