Jumat, 19 Desember 2014

Tiffany, The Eye Smile Princess



Tiffany, The Eye Smile Princess
           Malam ini, gegap gempita dan sorak sorai dari sepuluh ribu orang lebih penonton membahana di Singapore Indoor Stadium. Memeriahkan sebuah acara penganugrahan musik paling prestisius di asia, yakni Mnet Asian Music Award 2011. Mereka rela berteriak dan berdesak-desakan demi menyaksikan artis idolanya menerima penghargaan.
         Sementara itu, disalah satu barisan kursi khusus para penerima award, terlihat seorang artis tengah menangis terharu menyaksikan atmosfer yang luar biasa itu. Dia adalah Tiffany, salah satu member dari girlband Girls’ Generation.
I don’t beliave it, i don’t beliave it”. Ucap Tiffany sambil mengusap matanya yang masih saja berkaca-kaca. Ia masih merasa kalau suasana malam ini adalah mimpi.
***
      Sekitar delapan tahun yang lalu, seorang gadis remaja berusia lima belas tahun bernama Stephanie Hwang telah memikat perhatian para pencari bakat SM starlight system 2004. Sebuah agensi besar asal korea yang tengah mencari bibit-bibit berbakat untuk dilatih menjadi superstar dunia. Saat itu Tiffany, seperti itulah biasa gadis itu dipanggil tengah mengikuti audisi yang kebetulan digelar agensi itu di Los Angeles Amerika Serikat. Dan berkat Bakat menari dan suaranya yang khas akhirnya tiffany pun diterima sebagai siswi pelatihan SM starlight.
“ Sayang, siapa nama kamu?”. Tanya sang juri audisi begitu Tiffany selesai bernyanyi.
“ My name is Tiffany, fany fany Tiffany”. Jawab gadis itu dengan aksen amerikanya yang menggemaskan. Siapapun yang mendengarnya pasti akan tersenyum kagum tak terkecuali para juri itu.
“ Selamat ya, kamu kami terima sebagai siswi trainee SM yang nantinya menjalani pelatihan di Korea. Dengan bakat briliant kamu ini, kelak kamu akan menjadi superstar yang dikagumi banyak orang diseluruh dunia”.
“ Benarkah?”. Tanya Tiffany tak percaya.
“ Ya, tentu saja. Asalkan kamu yakin dan terus berusaha memberikan yang terbaik”. Jawab juri meyakinkan.
“ Aku pasti akan berusaha memberikan yang terbaik. Terima kasih, terima kasih banyak”. Ucap Tiffany sambil membungkuk berkali-kali saking senangnya.
Jalan untuk mewujudkan impian sebagai penyanyi kini terbuka sudah. Dalam hati, Tiffany pun berjanji akan berjuang dan berusaha keras untuk mencapai semuanya itu. Ia tidak akan mensia-siakan kesempatan yang sudah ada dihadapannya.
                Namun, setenang apapun sebuah lautan pasti akan ada gelombang pasangnya juga. Seperti itu pulalah yang juga dialami oleh Tiffany. Keberhasilannya lolos audisi SM starlight ternyata tidak direstui oleh ayahnya. Sang ayah sejak awal memang tidak ingin anak bungsunya itu menjadi seorang penyanyi. Beliau menginginkan Tiffany bisa mengikuti jejak kakak-kakaknya yang memang sudah lebih dulu menjadi penerus bisnis keluarga. Bukan menjadi artis, penyanyi, atau apalah itu. Apalagi begitu beliau tau kalau Tiffany nantinya diharuskan untuk pindah ke Korea.Walaupun itu negeri asal ibunda Tiffany, sang ayah tetap saja tidak setuju.
“ Ayah tidak setuju kamu menjadi penyanyi. Apalagi kamu sampai harus pindah ke Korea”.
“ Tapi ayah, menjadi penyanyi adalah impian aku. Tolong ayah, ijinkan aku mengikuti pelatihan di Korea”. Rengek Tiffany. Ia bahkan sampai berlutut dan menangis memohon ijin pada orang tua satu-satunya itu. Ya, satu-satunya karena sang ibunda sudah meninggal dua tahun yang lalu.
“ Tidak, ayah tetap tidak setuju”.
“ Ayah Fany mohon....”.
“ Tidak”.
***
                Hari demi hari Tiffany lewati dengan kebingungan dan kebimbangan. Entah berapa banyak air mata yang sudah ditumpahkannya demi mendapatkan ijin sang ayah. Namun ijin itu belum juga diperolehnya. Padahal keputusan bersedia atau tidak pindah ke Korea harus secepatnya disampaikan kepihak SM starlight. Karena jika sampai batas waktu Tiffany belum juga memutuskan, berarti itu sama saja seperti mengundurkan diri. Hal itu tentu saja tidak boleh terjadi. Apalagi selama ini diam-diam Tiffany sudah berlatih keras demi lolos audisi itu. Kini ia sudah dapat menyisihkan ribuan peserta lain, maka sungguh hal yang disayangkan jika ia harus mengundurkan diri.
                Memang berat jika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama pentingnya. Satu sisi Tiffany ingin sekali meraih mimpinya. Namun disisi lain, ia juga tidak mau mengecewakan ayahnya. Orang tua yang sudah mendidik dan merawatnya hingga menjadi remaja putri yang cantik seperti sekarang ini.
“ Mom...., i’m really need your advice now. Tiffany bingung Mom.., apa yang harus Fany lakukan sekarang?”. Keluh Tiffany dihadapan foto almarhum ibundanya. Ia tidak tau harus minta dukungan siapa lagi saat ini.
Fany, you still have us. We are your brother and your sister. We will always supporting you anything”. Ditengah-tengah curhatnya dihadapan foto sang bunda, tiba-tiba Tiffany dikagetkan oleh kehadiran dua orang saudaranya, Michelle dan Leo.
“ Kakak?”. Ucap Tiffany  begitu menyadari siapa yang datang.
“ Iya Fany, kita pasti mendukung kamu”. Tambah sang kakak perempuan.
“ Tapi ayah....”.
“ Masalah ayah biar nanti kakak yang bicara, yang penting sekarang kamu tidak boleh menyerah dan berputus asa. Kamu harus terus bersemangat dengan mimpi kamu, oke”.
“ Kakak....”. Senyum Tiffany yang beberapa hari ini hilang mulai merona kembali . Dirinya ternyata masih punya seseorang yang mendukungnya. Dan itu adalah kekuatan yang luar biasa.
                Satu hari menjelang batas akhir keputusan, Tiffany sudah membulatkan tekadnya. Ia pun mulai membereskan dan mengemas segala keperluan yang hendak dibawanya. Apapun keputusan ayahnya nanti ketika ia ijin untuk terakhir kalinya, ia tetap akan berangkat ke Korea.
                Sedang asik-asiknya Tiffany membereskan pakaian, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dilantai bawah. Suara itu berasal dari ruang keluarga. Tiffany menghentikan kegiatannya dan langsung bergegas turun. Sesampainya disana, ia mendapati kakak dan ayahnya sedang bertengkar hebat. Ia tau betul apa yang menjadi bahan perdebatan antara kakak dan ayahnya. Itu pasti berkaitan dengan dirinya.
“ Kamu gak usah ikut campur dengan keputusan ayah!”.
“ Tapi Fany berhak punya mimpi yah dan ayah tidak punya hak untuk menghalanginya”. Nada bicara Leo mulai meninggi.
“ Tau apa kamu tentang mimpi?! Jangan berkata tentang mimpi dihadapan ayah!”. Perdebatan antara anak dan orang tua itu bagaikan dua ujung magnet yang saling tolak menolak. Tiffany benar-benar bingung menyaksikan situasi yang pertama kali dilihatnya itu.
“ Ayah...tolong ayah tenang dulu”. Michelle kakak perempuan Tiffany mencoba menenangkan emosi ayahnya.
“ Jangan ikut campur Michelle”.
“ Tapi apa yang dikatakan Leo benar ayah. Tiffany berhak punya mimpi dan juga mewujudkan mimpinya. Ayah pasti tau kalau selama ini anak bungsu ayah itu sangat berbakat dalam hal menyanyi. Ayah ingakan? Dia pernah membanggakan ayah waktu kita meresmikan cabang baru bisnis kita, dia menyanyi dengan begitu baik dihadapan tamu dan kolega ayah. Dan mereka semua bertepuk tangan untuk bakat luar biasa putri ayah, Tiffany. Ayah ingatkan?”. Michelle menjelaskan tanpa menyadari kalau matanya sampai berkaca-kaca. Dan penjelasannya itu ternyata cukup membuat ayahnya mereda. Beliau sempat terdiam beberapa saat sampai kemudian berlalu pergi meninggalkan Leo dan Michelle yang masih berdiri terpaku.
                Kejadian siang hari yang tiba-tiba tadi sungguh membuat suasana rumah tidak nyaman. Terlebih bagi Tiffany. Sang ayah ternyata benar-benar tidak merestuinya untuk menjadi seorang penyanyi. Bahkan bujukan sang kakak pun tidak mampu meluluhkan keputusannya.
                Besok adalah hari dimana Tiffany harus memberikan keputusan. Apakah akan tetap nekad ke Korea meski tanpa restu sang ayah? Atau kah mengorbankan impiannya dan tetap tinggal di Amerika. Ia harus memutuskannya satu dari dua pilihan itu malam ini.
“ Fany”. Ucap sang ayah membuyarkan lamunan Tiffany.
“ A ayah?”. Menyadari kehadiran sang ayah yang tiba-tiba itu, Tiffany langsung menghapus air matanya.
“ Kamu pasti merasa kalau ayah adalah orang paling jahat didunia. Orang tua yang tega membunuh impian dan harapan anaknya sendiri”.
“ Tidak ayah, Fany sama sekali tidak berfikir seperti itu. Walau bagaimanapun ayah tetap orang tua yang Tiffany cintai”.
“ Apakah kamu benar-benar ingin menjadi penyanyi sayang?”. Tanya sang ayah kemudian. Tatapannya kini mulai sendu dan penuh rasa cinta.
“ Menjadi penyanyi adalah impian Tiffany sejak kecil ayah”. Jawab Tiffany, dan lagi-lagi ia tak kuasa menahan air matanya.
“ Kalau begitu pergilah sayang. Raihlah mimpi dan cita-cita kamu itu. Buktikan sama ayah kalau kamu bisa menjadi penyanyi yang dicintai banyak orang”.
“ A ayah, a apakah ayah sudah mengijinkan Tiffany?”.
“ Iya sayang”.
“ Terima kasih ayah...”. Saking senangnya Tiffany kemudian langsung memeluk sang ayah. Ia tumpahkan semua rasa senangnya dipelukan orang tua tercinta yang tinggal satu-satunya itu.
***
                Minggu pagi waktu setempat, untuk pertama kalinya Tiffany menginjakan kaki di negeri ginseng Korea. Tepatnya di International Incheon Airport. Minggu pagi yang akan menjadi awal sejarah kehidupan barunya.
“ Kamu siap menjadi bagian dari keluarga SMTOWN?”. Tanya salah seorang crew pencari bakat membuyarkan lamunan Tiffany.
“ Oh, i iya tentu saja”. Jawab Tiffany bersemangat.
“ Oke, tidak lama lagi kamu akan bertemu dengan saudara-saudara baru kamu. Mereka sama seperti kamu, siswa yang terpilih dari berbagai audisi”.
“ Benarkah?”.
“ Iya, mereka semua memiliki bakat yang hebat sama seperti kamu. Dan kalian nantinya akan menjadi satu kesatuan yang luar biasa dalam sebuah grup. Do you axcaited?”.
Yea, absolutly”.
                Tiffany sudah membayangkan perjalanan panjang yang akan dihadapinya nanti. Namun ia sudah membulatkan tekad sejak awal. Terlebih, ia sudah berjanji pada ayahnya untuk memberikan sesuatu yang terbaik. Ia berjanji akan tetap tegar, bersemangat, dan pantang menyerah walaupun tinggal di Korea dan jauh dari keluarga.
                Setelah menempuh perjalanan cukup lama menyusuri kota Seoul, akhirnya rombongan tiba di kantor pusat SM Entertainment. Kantor pusat agensi yang nantinya akan menaungi Tiffany. Disinilah awal Tiffany bertemu dengan Jessica, Taeyeon, Yuri, Yoona, Sunny, Seohyun, Sooyoung, dan Hyoyeon. Para remaja putri berbakat yang akan menjadi keluarga baru Tiffany. Keluarga yang akan berjuang bersamanya dalam menempuh pelatihan panjang bertahun-tahun.
***
                Acara penganugrahan Mnet Asian Music Award 2011 hampir menuju puncaknya. Kini tinggal satu kategori lagi yang akan dibacakan. Dan kategori terakhir ini merupakan salah satu dari tiga penghargaan utama Mnet Asian Music Award tahun ini. Yakni Penghargaan untuk kategori Artis of the Year. Sebuah kategori untuk mengapresiasi eksistensi suatu artis sepanjang tahun.
“ Mnet Asian Music Award 2011 kini sudah mencapai puncaknya. Kini saatnya untuk penganugrahan Artis of the Year. Dan idola yang memenangkan kategori tersebut adalah....Girls’.....Generation....!!!”.
Ucapan artis pembaca kategori itu langsung disambut histeria oleh puluhan ribu fans yang memenuhi Singapore Indoor Stadium. Terdengar dari kejauhan mereka semua meneriakan SNSD, SNSD, SNSD, SNSD. Sungguh atmosfer yang luar biasa.
“ Fany!, ayo kita naik ke podium”. Ajak Taeyeon sang leader Girls Generation. Ia terpaksa menepuk bahu Tiffany karena sedari tadi terlihat melamun.
“ Dari tadi kamu melamun terus, ada sesuatu yang kamu pikirkan?”. Tanya Taeyeon khawatir.
“ Oh tidak, tidak apa-apa. Aku hanya teringat masa-masa panjang beberapa tahun yang lalu. Aku juga teringat ayah, oleh karena itulah sedari tadi aku melamun. Aku merasa malam ini seperti mimpi. Taeyeon, apakah ini kenyataan?”.
 This is a real Fany. Selama ini kamu sudah berjuang keras. Kamu layak mendapatkan ini semua”. Jawab Taeyeon sambil mengusap air mata Tiffany. Ia pun kemudian menggandengnya naik ke podium menyusul rekan-rekannya yang lain.
                Malam puncak penganugrahan musik asia itu Tiffany dedikasikan untuk ayahnya tercinta. Award yang ia genggam saat ini adalah hadiah untuk beliau atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya selama ini.
Terima kasih, terima kasih banyak untuk semuanya. Terima kasih untuk kepercayaan yang telah kalian berikan kepada kami selama ini. Dan untuk ayahku tercinta di LA, terima kasih ayah. This is for you Dad...., i’m rally really love you. Forever”.

THE END



Tidak ada komentar:

Posting Komentar